BERITAPERS.COM || MAROS — Program rehabilitasi jaringan irigasi tersier di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, terus menunjukkan progress signifikan. Hingga pertengahan Oktober 2026, realisasi fisik pengerjaan terhadap 20 unit jaringan irigasi dilaporkan telah menembus angka sekitar 80 persen.
Kepastian tersebut disampaikan oleh Kepala Bidang Sarana dan Prasarana (Sapras) Dinas Pertanian Kabupaten Maros, Syamsul Bahri, saat memberikan keterangan di ruang kerjanya, Rabu (14/10/2026).
Syamsul menjelaskan, pengawasan dan pemantauan lapangan dilakukan secara ketat di sejumlah titik strategis, termasuk di Kecamatan Lau dan Maros Baru. Lokasi yang menjadi fokus perhatian di antaranya Kelurahan Soreang serta Desa Borikamase, Majannang, dan Mattiro Tasi.
”Rehabilitasi tahap kedua ini mencakup 20 unit jaringan irigasi tersier yang tersebar di lima kecamatan, yaitu Cenrana, Maros Baru, Lau, Bantimurung, dan Tanralili, dengan melibatkan 20 kelompok tani penerima manfaat,” ujar Syamsul Bahri.
Progres pengerjaan di lapangan secara umum berjalan lancar. Salah satu contohnya adalah pengerjaan oleh Kelompok Tani Sipatuo di Desa Majannang yang telah mencapai 95 persen.
Meski terkendala ketersediaan air akibat dampak musim kemarau—khususnya untuk kebutuhan pengecoran konstruksi—pihaknya optimistis seluruh target fisik rampung pada akhir November 2026.
Infrastruktur irigasi yang direhabilitasi ini memanfaatkan pasokan air dari Daerah Irigasi (DI) Bantimurung melalui saluran primer dan sekunder hingga menjangkau kawasan persawahan di Mattiro Tasi.
Dengan selesainya perbaikan saluran ini, distribusi air ke lahan persawahan dipastikan lebih lancar sehingga petani dapat menekan biaya operasional penggunaan pompa air.
Selain itu, optimalisasi irigasi ini diproyeksikan mampu meningkatkan intensitas Indeks Pertanam (IP) dari satu kali menjadi dua kali tanam setahun, serta mendongkrak produktivitas padi dari kisaran 5,5–6 ton menjadi 6,5 ton per hektar guna memperkuat ketahanan pangan Kabupaten Maros.










