BeritaPers. Makassar, 7 Desember 2025— Armada Arfan, mahasiswa STIMI Makassar semester lima Jurusan Manajemen SDM, berhasil meraih gelar 1st Runner Up (Juara 2) dalam ajang bergengsi Pemilihan Duta Budaya Kota Makassar 2025. Kegiatan yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan Kota Makassar ini bertujuan melahirkan pemuda-pemudi yang memiliki komitmen kuat terhadap pelestarian dan pengembangan budaya lokal.
Ajang ini diikuti oleh lebih dari 100 peserta dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan serta pemuda Kota Makassar. Seleksi berlangsung selama kurang lebih dua minggu, dimulai dari tahap pendaftaran, tes administrasi, hingga tes wawancara. Dari ratusan pendaftar tersebut, akhirnya terpilih 24 pasang finalis (12 Daeng dan 12 Dara) untuk melaju ke tahap berikutnya.
Rangkaian kegiatan finalis berlangsung intensif, termasuk technical meeting, talent show, catwalk class, serta karantina selama tiga hari di Hotel Claro Makassar. Dalam masa karantina, para finalis diajak menelusuri berbagai situs bersejarah seperti Museum Kota Makassar, Makam Pangeran Diponegoro, dan Makam Raja-Raja Tallo guna memperdalam pemahaman mereka terhadap jejak peradaban dan budaya lokal. Selain itu, mereka juga menerima materi tentang kepemudaan, advokasi budaya, hingga strategi perancangan program kerja.
Pada Malam Puncak Grand Final, Armada tampil mengesankan dan berhasil menduduki posisi Juara 2 berkat kemampuan komunikasi, pemahaman budaya, serta advokasi yang ia usung. Armada, yang lahir di Makassar pada 28 Agustus, mengaku bahwa pencapaian tersebut bukan hanya hasil kerja kerasnya, tetapi juga berkat nilai yang ia pegang teguh sejak kecil, yaitu siri’ na pacce.

“Saya tanamkan dalam diri bahwa siri’ na pacce adalah harga diri dan empati. Nilai itu yang membuat saya menghargai setiap proses, tidak mudah menyerah, dan terus membawa diri untuk melakukan yang terbaik,” ungkapnya.
Lebih dari sekadar kompetisi, motivasi terbesar Armada dalam mengikuti ajang Duta Budaya adalah kepeduliannya terhadap generasi muda, khususnya anak-anak SD dan SMP. Ia melihat bahwa pembelajaran muatan lokal, terutama bahasa daerah dan Aksara Lontara, kian terpinggirkan dan tidak lagi menjadi prioritas.
Dari keprihatinan tersebut, ia merumuskan advokasi dan program kerja bertajuk “Gerakan Anak Cinta Budaya”, sebuah gerakan yang berfokus pada edukasi budaya sejak dini. Armada meyakini bahwa pelestarian budaya tidak bisa hanya berhenti pada tahap mengenalkan, tetapi harus sampai pada usaha menghidupkan kembali tradisi, bahasa, aksara, dan nilai-nilai budaya yang hampir punah di kalangan anak muda.
“Generasi muda tidak boleh hanya sekadar melestarikan. Kita harus menghidupkan kembali budaya yang mulai hilang. Anak-anak SD dan SMP harus tetap mengenal bahasa daerah agar mereka dapat merasakan langsung betapa berharganya identitas budaya kita,” tegas Armada.
Ia juga menekankan bahwa budaya hanya akan bertahan jika diwariskan secara aktif dari generasi ke generasi. Baginya, perubahan zaman bukan alasan untuk menjauh dari budaya, tetapi justru momentum untuk menguatkannya.
“Saya tanamkan dalam diri saya bahwa perubahan bukan menjadi tantangan, tapi menjadi peluang bagi kita. Peluang untuk berinovasi dalam melestarikan budaya, peluang untuk memperkenalkannya kembali dengan cara-cara yang relevan bagi anak muda,” ujarnya.
Armada menutup pernyataannya dengan rasa syukur mendalam. Ia mengakui bahwa dukungan dan doa dari kedua orang tuanya berperan besar hingga ia dapat berdiri di titik prestasi ini.
“Alhamdulillah, semua ini tidak lepas dari doa orang tua saya. Mereka adalah kekuatan terbesar saya. Semoga apa yang saya lakukan bisa bermanfaat bagi generasi muda dan menjadi langkah awal untuk menjaga budaya kita tetap hidup,” tutupnya.
Prestasi Armada Arfan diharapkan menjadi inspirasi bagi pemuda Makassar untuk terus menjaga, menghidupkan kembali, dan membanggakan budaya daerah sebagai bagian dari jati diri masyarakat Sulawesi Selatan.






















Discussion about this post