BERITAPERS || Parepare – Perjalanan panjang Muhammad Fahrul dalam dunia Aparatur Sipil Negara (ASN) membuktikan bahwa pengabdian sejati tak mengenal tempat. Pria yang akrab disapa Bang Fahrul ini kini menjabat sebagai Kasi Kesejahteraan Rakyat (Kesra) di Kelurahan Galung Maloang sejak tahun 2024.
Sebelum menduduki jabatan tersebut, Bang Fahrul dikenal luas sebagai sosok penting di Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), tempat ia mengabdi sejak pertama kali diangkat sebagai PNS pada tahun 2002 hingga 2024. Dalam rentang waktu tersebut, ia sempat menjabat sebagai Kanit Petugas Tindak Internal (PTI), sebuah jabatan yang menuntut disiplin, tanggung jawab, dan integritas tinggi.
Tak hanya menjalankan tugas, Bang Fahrul juga aktif memperkaya diri dengan berbagai pelatihan dan pendidikan. Beberapa Diklat (pendidikan dan pelatihan) yang pernah ia ikuti antara lain:
Pelatihan Gabungan Daerah Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009
Pelatihan SDM Bimbingan Dasar Kedisiplinan, yang diselenggarakan oleh Kodim 1405 Malusetasi Kota Parepare
Dari pelatihan-pelatihan tersebut, Bang Fahrul mengaku banyak mendapatkan ilmu dan pengalaman yang memperkuat fondasi profesionalismenya sebagai aparatur negara.
“Dari pengalaman dan pelatihan itu, saya belajar banyak hal. Tapi seberapa pun matangnya ilmu kita, sebagai ASN kita tetap harus siap menerima tugas dari pimpinan, termasuk saat dimutasi ke kelurahan,” ungkapnya.
Meski berat meninggalkan instansi yang dicintainya, ia menerima keputusan mutasi dengan lapang dada. Ia menegaskan bahwa pengabdian tidak tergantung di mana seseorang ditempatkan, tetapi bagaimana ia memberikan yang terbaik di mana pun berada.
“Dimanapun saya ditempatkan, saya akan berusaha memberikan yang terbaik demi mencari keridhaan Allah SWT. Saya tahu, saya banyak kekurangan dan mungkin ada orang yang tidak menyukai saya, tapi itu tergantung dari cara pandang masing-masing. Selama niat saya baik karena Allah, apapun konsekuensinya akan saya hadapi. Saya berani menjadi musuh di tengah orang-orang yang salah, karena saya pengabdi, bukan penjilat,” tegasnya.
Bang Fahrul juga menyuarakan harapannya terhadap reformasi birokrasi, khususnya dalam hal penempatan ASN. Ia menilai, akan lebih ideal jika penugasan disesuaikan dengan latar belakang keilmuan dan pengalaman pegawai.
“Alangkah baiknya jika penempatan sesuai dengan bidang dan keahlian. Dengan begitu, birokrasi akan berjalan lancar tanpa ada hambatan atau alasan ‘mau belajar dulu’,” pungkasnya.
Dengan dedikasi dan sikap terbuka terhadap perubahan, Bang Fahrul menjadi contoh nyata ASN yang tak hanya bekerja, tapi mengabdi dengan hati.










