BeritaPers. Opini – Masih banyak anak Indonesia yang duduk di kelas awal SD kesulitan membaca. Padahal, membaca adalah kunci untuk memahami semua pelajaran. Lalu, apa yang bisa dilakukan guru agar anak cepat lancar membaca tanpa merasa terbebani?
Membaca sering disebut sebagai jendela dunia. Melalui membaca, anak bisa mengenal ilmu pengetahuan, memahami budaya, bahkan membentuk cara berpikir kritis. Namun, realita di lapangan menunjukkan bahwa banyak anak Indonesia yang duduk di bangku SD kelas awal belum benar-benar bisa membuka jendela itu. Mereka masih terbata-bata saat membaca, kesulitan membedakan huruf mirip, atau sekadar menggabungkan bunyi menjadi kata. Padahal, kemampuan membaca sejak dini adalah fondasi utama untuk memahami pelajaran lain.
Data internasional memperlihatkan gambaran yang kurang menggembirakan. PIRLS (Progress in International Reading Literacy Study) 2021 menempatkan Indonesia di peringkat bawah dalam kemampuan literasi membaca siswa kelas IV SD, jauh di bawah rata-rata internasional. Artinya, masalah membaca sudah muncul sejak kelas awal dan terbawa ke jenjang lebih tinggi. Bila ini dibiarkan, anak-anak akan kesulitan mengikuti mata pelajaran lain, bahkan sampai ke jenjang SMP atau SMA.
Guru, Kunci Cepat atau Lambatnya Anak Bisa Membaca
Di ruang kelas, gurulah yang menjadi aktor utama. Guru bukan hanya pengajar huruf dari A sampai Z, melainkan pembimbing yang menentukan cepat atau lambatnya anak bisa membaca lancar. Sayangnya, banyak guru masih mengandalkan cara tradisional: menuliskan huruf, meminta anak mengeja, lalu berharap mereka akan segera bisa membaca.





















