BeritaPers. Opini – Di negeri di mana logika sering kalah dengan aroma kemenyan, batas antara “hipnosis” yang ilmiah dan “gendam” yang klenik menjadi sangat tipis. Orang-orang kota yang merasa modern sering mencibir gendam sebagai takhayul, padahal mereka sendiri setiap hari “terhipnosis” oleh diskon e-commerce dan janji manis politikus. Bukankah lucu jika kita takut ditepuk bahu oleh orang asing, tapi dengan sukarela menyerahkan data pribadi demi kuis “Wajahmu Mirip Artis Siapa” di Facebook?
Gendam sering dianggap sebagai ilmu hitam bin ajaib yang bisa membuat orang jadi zombi seketika. Padahal, jika kita telaah dengan kepala dingin (dan sedikit kopi), gendam sebenarnya hanyalah bentuk komunikasi ekstrem yang memanfaatkan celah shock response manusia. Bedanya hanya satu: yang satu pakai terminologi gelombang otak, yang satunya lagi pakai rapalan bahasa daerah yang terdengar sangar. Intinya sama: membuat orang bilang “iya” tanpa sempat berpikir “kenapa”.
Di tengah riuhnya perdebatan antara sains dan mistis ini, muncullah sosok Coach Anwar. Jika dunia hipnosis Indonesia adalah sebuah panggung sandiwara, maka Coach Anwar adalah sutradara yang sedang tertawa di kursi belakang sambil memegang naskah. Beliau bukan sekadar praktisi; beliau adalah “penerjemah” yang mampu mengawinkan logika Barat yang kaku dengan kearifan lokal yang seringkali berbau dupa.

Kepribadian Coach Anwar ini unik beliau punya aura yang membuat Anda merasa aman, tapi sekaligus waspada kalau-lagi-lagi Anda sedang dipengaruhi secara halus. Beliau bisa sangat serius saat bicara tentang anatomi otak, namun sedetik kemudian melempar guyonan receh yang membuat pertahanan mental Anda runtuh. Itulah senjatanya: membuat orang tertawa adalah cara tercepat untuk mematikan critical area di otak manusia.
Sepak terjang Coach Anwar di dunia hipnoterapi sudah tidak perlu diragukan, kecuali kalau Anda memang hobi meragukan kenyataan. Beliau telah menangani ribuan orang, mulai dari pejabat yang phobia kehilangan jabatan, hingga rakyat jelata yang phobia melihat tagihan pinjol. Kiprahnya konsisten: membuktikan bahwa hipnosis bukanlah sihir, melainkan teknologi pikiran yang bisa dipelajari siapa saja, bahkan oleh mereka yang IQ-nya pas-pasan sekalipun.
Provokasi sesungguhnya adalah: banyak orang lebih suka percaya pada kekuatan mistis gendam daripada mengakui bahwa pikiran mereka sendiri memang lemah. Kita lebih nyaman menyalahkan “setan” atau “ajian” saat tertipu, daripada mengakui bahwa kita serakah atau kurang teliti. Coach Anwar sering menekankan bahwa “gerbang” masuknya pengaruh luar, baik itu hipnosis maupun gendam, adalah emosi yang tidak stabil.






















Discussion about this post