BeritaPers. Opini – Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah, sering dijumpai pemandangan yang autentik: materi selesai diajarkan, catatan penuh, nilai asesmen keluar menjulang tinggi, tetapi perilaku dan kebiasaan baik yang terlupakan. Pada akhirnya, terasa “kognitif” hebat, tetapi perilaku tanda tanya.
Kondisi tersebut menjadi rekomendasi dan antisipasi dengan menggunakan metode kisah (storytelling) pada pembelajaran. Penggunaan metode kisah bukan sekadar “bumbu” agar kelas tidak membosankan.
Dalam tradisi Islam, kisah (qashash) memang dipakai untuk menghadirkan ibrah (pelajaran), yang diharapkan mampu menyentuh hati, membentuk sikap dan karakter peserta didik. Sementara dalam teori pendidikan modern, kisah ini dipahami sebagai cara alami manusia memaknai dunia secara nyata: dimana kita lebih mudah mengingat nilai ketika ia hadir dalam konteks tokoh, konflik, pilihan, dan konsekuensi, bukan dalam daftar poin atau angka.

Agar metode kisah tidak berhenti sebagai “cerita yang seru-seruan saja”, guru perlu mendesain rancang bangun penggunaan yang sistematis, seperti: fokus pada tujuan dan nilai pembelajaran, alur kisah, dampak yang diharapkan pasca pembelajaran, dan relevansi kisah dengan konteks tualisasi kehidupan sehari-hari peserta didik.
Rancang bangun penggunaan metode kisah pada pembejaran PAI, sala alur yang dapat dipertimbangkan model “ADDIE” Analisis – Desain – Pengembangan – Implementasi – Evaluasi.
Analisis: Masalah Nyata, Nilai Spesifik: Mulai dari isu yang benar-benar terjadi di sekolah, bukan dari “pokok bahasan buku” seperti: mencontek dianggap wajar (dikaji perspektif nilai jujur dan amanah) bullying verbal di kelas (dikaji perspektif nilai adab lisan dan empati), Ibadah hanya formalitas (dikaji perspektif nilai keikhlasan dan tanggungjawab).






















Discussion about this post