BeritaPers. Opini || Kemampuan membaca dan menulis merupakan fondasi utama dalam proses belajar anak. Namun, literasi dasar tidak selalu berkembang secara seragam pada setiap peserta didik. Perbedaan lingkungan keluarga, stimulasi awal, serta kondisi individual anak kerap memengaruhi kecepatan dan kualitas perkembangan literasi mereka. Realitas inilah yang ditemui dalam kegiatan pengabdian masyarakat di MI Manggarupi, khususnya pada seorang siswa kelas II A bernama Muhammad Al-Fatih.

Al-Fatih, siswa berusia tujuh tahun, menunjukkan kemampuan membaca yang cukup baik untuk jenjang kelasnya. Ia mampu mengenali huruf dan membaca kata sederhana dengan kelancaran yang relatif stabil. Namun, pada aspek menulis, masih tampak berbagai kendala, seperti huruf terbalik, ukuran tulisan yang tidak konsisten, serta fokus belajar yang mudah teralihkan. Kondisi ini menunjukkan bahwa literasi tidak dapat dipahami secara parsial, melainkan sebagai keterampilan terpadu yang memerlukan pendampingan berkelanjutan.
Kegiatan pengabdian ini diawali dengan observasi kelas dan diskusi bersama guru. Dari proses tersebut, kami menyadari bahwa guru memiliki peran strategis dalam mengenali kebutuhan belajar setiap anak, namun keterbatasan waktu dan jumlah siswa sering kali membuat pendampingan individual sulit dilakukan secara optimal. Oleh karena itu, kehadiran mahasiswa dan bimbingan dosennya dalam kegiatan pengabdian menjadi bentuk kolaborasi nyata untuk membantu menguatkan proses pembelajaran di kelas.
Pendampingan literasi terhadap Al-Fatih dilakukan secara bertahap dan berfokus pada penguatan keterampilan menulis. Metode yang digunakan adalah metode drill dan pendekatan multisensori. Melalui latihan menulis berulang, Al-Fatih dibimbing untuk membentuk kebiasaan motorik yang benar, mulai dari arah goresan huruf hingga konsistensi ukuran tulisan. Pendekatan multisensori diterapkan dengan menggabungkan visual (melihat contoh huruf), auditorial (mendengar instruksi), dan kinestetik (gerakan tangan saat menulis), sehingga proses belajar menjadi lebih bermakna dan mudah dipahami.
Pendekatan ini dilakukan secara perlahan dan penuh empati. Setiap kemajuan kecil diberikan penguatan positif agar Al-Fatih tetap termotivasi. Hasilnya mulai terlihat secara bertahap. Tulisan yang semula acak mulai menunjukkan perbaikan: huruf lebih jelas, arah penulisan semakin tepat, dan fokus belajar meningkat. Meski belum sepenuhnya sempurna, perkembangan ini menjadi indikator penting bahwa pendampingan yang tepat dapat membantu anak mengatasi kesulitan literasi yang dialaminya.
Lebih dari sekadar peningkatan kemampuan akademik, pendampingan ini juga berdampak pada sikap belajar anak. Al-Fatih menjadi lebih percaya diri, tidak mudah menyerah, dan berani mencoba kembali ketika melakukan kesalahan. Hal ini menegaskan bahwa literasi bukan hanya soal kemampuan teknis membaca dan menulis, tetapi juga tentang membangun kepercayaan diri dan motivasi belajar anak.
Kegiatan pengabdian ini ditutup bertepatan dengan peringatan Hari Guru. Momentum tersebut menjadi refleksi bersama bahwa pendidikan adalah kerja kolaboratif yang melibatkan guru, sekolah, mahasiswa, dan keluarga. Kami menyerahkan laporan hasil observasi kepada pihak sekolah sebagai bentuk pertanggungjawaban akademik sekaligus kontribusi nyata bagi pengembangan pembelajaran.
Pengalaman di MI Manggarupi mengajarkan kami bahwa menumbuhkan literasi tidak selalu membutuhkan program besar, tetapi memerlukan kesabaran, ketelatenan, dan kepedulian yang konsisten. Meniti huruf demi huruf bersama seorang anak adalah proses kecil, tetapi dari sanalah masa depan literasi bangsa perlahan dibangun.
Penulis : Dr. Hj. Andi Halimah, M.Pd
Dosen PGMI FTK UINAM






















Discussion about this post