BeritaPers. Opini || Literasi dasar—membaca dan menulis—merupakan fondasi utama keberhasilan pendidikan anak. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua anak memperoleh kesempatan literasi yang setara, terutama mereka yang bersekolah di wilayah pinggiran dengan keterbatasan sarana dan dukungan keluarga. Kondisi inilah yang kami temui saat melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di SD Inpres Buttadidi, Kabupaten Gowa.
Sekolah dasar yang terletak di jalur poros Malino ini memiliki lingkungan sederhana dengan fasilitas yang masih terbatas. Beberapa ruang kelas tampak kurang layak, bahkan mengalami kebocoran saat hujan deras. Meski demikian, semangat para guru dalam mendidik tidak pernah surut. Dari sinilah kami belajar bahwa pendidikan sejati tidak hanya bergantung pada kelengkapan sarana, tetapi pada dedikasi dan kepedulian.
Fokus pendampingan tertuju pada dua siswa kelas II, Muhammad Akbar (9 tahun) dan Muhammad Fariz Ramadhan (8 tahun), yang mengalami kesulitan membaca dan menulis. Pada pertemuan awal, keduanya masih belum sepenuhnya mengenal huruf dan sering tertukar membedakan bentuk abjad seperti b–d, i–j, dan m–n. Konsentrasi belajar mereka pun mudah teralihkan oleh suasana kelas yang ramai.
Pendampingan dilakukan secara individual dengan pendekatan belajar sambil bermain, menggunakan media konkret, buku bacaan sederhana, kartu huruf, serta bantuan media digital. Huruf dikenalkan melalui asosiasi visual yang dekat dengan dunia anak, misalnya huruf b diibaratkan “bebek dengan perut di depan” dan huruf d sebagai “domba dengan perut di belakang”. Pendekatan ini terbukti membantu anak memahami perbedaan bentuk huruf secara perlahan.

Seiring berjalannya waktu, kemajuan mulai terlihat. Fariz menunjukkan peningkatan signifikan dalam mengenali huruf A–Z dan mulai mampu membaca suku kata sederhana. Akbar pun semakin berani mencoba membaca mandiri meski masih memerlukan penguatan. Lebih dari sekadar peningkatan akademik, keduanya tampak lebih percaya diri, antusias, dan termotivasi setiap kali kegiatan pendampingan dimulai.
Melalui observasi dan percakapan dengan guru, kami menemukan bahwa faktor keluarga turut memengaruhi perkembangan literasi anak. Fariz tinggal bersama ibu yang bekerja hingga malam hari, sementara Akbar diasuh oleh kakek-nenek yang tidak memiliki latar belakang pendidikan formal. Kondisi ini membuat anak-anak sangat bergantung pada pembelajaran di sekolah. Hal tersebut menegaskan bahwa literasi bukan hanya tanggung jawab sekolah, melainkan memerlukan ekosistem pendukung yang lebih luas.
Kegiatan pengabdian ini ditutup bertepatan dengan peringatan Hari Guru Nasional. Suasana sekolah dipenuhi pentas seni dan kebersamaan. Pada momen perpisahan, kami menyerahkan hadiah sederhana kepada siswa sebagai bentuk apresiasi dan penyemangat. Raut bahagia mereka menjadi pengingat bahwa perhatian kecil dapat memberi dampak besar.
Guru kelas II SD Inpres Buttadidi menyampaikan apresiasi atas pendampingan yang dilakukan. Menurutnya, kehadiran mahasiswa tidak hanya membantu peningkatan kemampuan membaca siswa, tetapi juga membawa suasana belajar yang lebih menyenangkan dan memotivasi.
Pengalaman ini mengajarkan kami bahwa menumbuhkan budaya literasi sejak dini memerlukan kesabaran, kreativitas, dan kepedulian yang berkelanjutan. Di tengah keterbatasan, harapan tetap tumbuh. Anak-anak seperti Akbar dan Fariz membuktikan bahwa dengan pendampingan yang tepat, setiap anak memiliki potensi untuk berkembang.
Pengabdian ini mungkin sederhana, tetapi kami percaya bahwa langkah kecil di ruang kelas pinggiran adalah bagian penting dari upaya besar membangun masa depan literasi bangsa.
Penulis: Dr. Andi Halimah., M.Pd
Dosen Prodi PGMI FTK UIN Alauddin Makassar






















Discussion about this post