BERITAPERS.COM || Di wilayah Jakarta dan beberapa kota besar di Indonesia kembali dilanda banjir. Genangan-ganangan air tersebut muncul di berbagai kawasan permukiman, jalan utama, dan pusat aktivitas warga. Selasa (10/2/2026).
Kondisi tersebut telah mengganggu mobilitas masyarakat serta aktivitas ekonomi, dan menjadi masalah yang terus berulang kali disetiap musim hujan tiba.
Pemerintah mengatakan bahwa banjir tersebut terjadi akibat tingginya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir. Untuk mengurangi risiko banjir, pemerintah telah melakukan sejumlah upaya, yang di antaranya modifikasi cuaca dan normalisasi tiga sungai.
Langkah tersebut diharapkan dapat membantu mengendalikan volume air dan meminimalkan dampak banjir dibeberapa wilayah yang terdampak.
Banjir Berulang; Masalah Struktural
Banjir di Jakarta dan wilayah perkotaan lainnya merupakan masalah lama yang terus berulang kali dari tahun ke tahun. Hal tersebut menunjukkan bahwa banjir bukan hanya kejadian alam biasa, tetapi di dalam persoalan struktural yang belum diselesaikan secara serius. Jika banjir terus terjadi, berarti ada kesalahan yang mendasar dalam cara kota dirancang dan dikelola.
Penyebab utama banjir tersebut bukan hanya curah hujan yang tinggi, tetapi melainkan kekeliruan dalam penataan ruang. Bahkan, banyak lahan resapan air berubah fungsi menjadi kawasan bangunan, perumahan, dan pusat perbisnisan.
Akibatnya, tanah tidak dapat menyerap air hujan, sehingga air-air tersebut langsung mengalir ke sungai dan drainase yang kapasitasnya terbatas, lalu meluap menjadi banjir.
Masalah tersebut semakin diperparah oleh paradigma kapitalistik dalam pengelolaan lahan. Kebijakan-kebijakan pembangunan lebih mengutamakan keuntungan ekonomi daripada kelestarian lingkungan.
Dampaknya lingkungan sering diabaikan, dan selama pembangunan dianggap menguntungkan secara finansial. Namun, pola pikir seperti ini dapat membuat kerusakan lingkungan terus terjadi dan risiko terhadap banjir semakin besar.
Sementara itu, solusi yang telah ditawarkan oleh pemerintah pada saat masih bersifat pragmatis dan berjangka pendek. Langkah-langkah seperti dalam penanganan darurat atau proyek teknis ini belum menyentuh akar masalannya, yaitu tata ruang dan kebijakan pembangunan.
Tanpa merubah paradigma dan perbaikan yang menyeluruh dalam pengelolaan lahan, maka dari itu banjir akan terus menerus dan menjadi masalah yang merugikan masyarakat.
Tata Ruang Berbasis Islam; Berbasis Kemaslahatan
Nah, di dalam islam telah memiliki solusi yang pasti dalam menangani pemasalan di dalam hidup kita; seperti halnya permasalah banjir yang terjadi di wilayah jakarta dan sekitarnya.
Islam telah menempatkan bahwa lingkungan menjadi sebagai bagian yang harus dijaga, sehingga disetiap pengaturan ruang dan pembangunannya selalu mempertimbangkan dampak yang akan terjadi terhadap alam.
Dengan cara ini, lahan resapan air, sungai, dan ekosistem tetap terjaga, sehingga risiko untuk terjadinya bencana seperti banjir bisa dicegah sejak awal.
Pembangunan dalam Islam tidak berdasarkan pada asas keuntungan kapitalistik yang hanya bersifat jangka pendek. Tapi sebaliknya, Islam telah menekankan kemaslahatan umat dalam jangka yang panjang. Artinya, setiap kebijakan pembangunan harus membawa manfaat yang nyata bagi masyarakat tanpa merusak lingkungan.
Nah, Jika prinsip tersebut diterapkan, pembangunan tidak akan mengorbankan alam hanya untuk keuntungan segelintir pihak.
Gambaran tata ruang pada masa khilafah telah menunjukkan bahwa kemaslahatan yang menjadi tujuan utama. Pengelolaan ruang tersebut tidak hanya memperhatikan kebutuhan manusia saja. Tetapi juga, akan menjaga keberlangsungan seluruh makhluk hidup.
Alam telah diposisikan sebagai amanah yang harus dirawat, bukan dieksploitasi. Dengan pendekatan tersebut, keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan bisa terwujud.
Dengan demikian, penerapan tata kelola ruang didalam Islam merupakan solusi yang pasti, menyeluruh dan mendasar. Tapi, Pembangunan yang berlandaskan nilai Islam akan melahirkan rahmat bagi seluruh alam, bukanlah bencana.
Jika solusi ini telah diterapkan secara konsisten, maka masalah banjir dan kerusakan lingkungan bisa dicegah dan aman dan bisa berkelanjutan.






















Discussion about this post