BeritaPers || Perdebatan tentang bagaimana seharusnya umat Islam merespons kemungkaran dan ketidakadilan global bukanlah hal baru. Ia terus hidup dalam diskusi-diskusi umat, baik di ruang kajian, media sosial, maupun forum intelektual. Di satu sisi, ada semangat aktivisme yang menekankan pentingnya keterlibatan melalui “lisan” ceramah, tulisan, diskusi, bahkan konten digital sebagai bentuk ikhtiar nyata. Di sisi lain, ada penekanan pada pentingnya memahami teks agama secara proporsional dan membangun fondasi diri sebelum melangkah lebih jauh. Hadis yang sering menjadi rujukan dalam diskursus ini adalah hadis riwayat Imam Nawawi dalam kitab Al-Arba’in An-Nawawiyah tentang kewajiban mengubah kemungkaran dengan tangan, lisan, dan hati. Sebagian memahami hadis ini sebagai urutan hierarkis: tangan (kekuasaan) didahulukan, lalu lisan, kemudian hati sebagai selemah-lemahnya iman. Namun sebagian lain berdasarkan penjelasan para pengajar dan dosen ilmu hadis memahami bahwa hadis ini berbicara tentang porsi dan kapasitas, bukan sekadar urutan teknis.
Dalam perspektif kapasitas, seorang pejabat mencegah kemungkaran melalui kebijakan. Seorang dai atau guru melalui lisannya. Seorang rakyat biasa, jika tak memiliki kuasa dan ruang bicara yang efektif, tetap memiliki benteng hati dan doa. Maka yang ditekankan bukan siapa paling tinggi levelnya, tetapi siapa menjalankan perannya dengan benar. Namun, muncul kegelisahan lain: apakah cukup jika umat hanya berhenti pada perbaikan diri dan keluarga? Bukankah kebijakan politik dan ekonomi hari ini menentukan nasib generasi mendatang? Kekhawatiran tentang utang negara, inflasi, infiltrasi kepentingan asing, hingga potensi krisis sosial menjadi alasan mengapa sebagian kalangan menolak sikap yang dianggap terlalu “pasrah”. Mereka mengingatkan bahwa ikhtiar harus maksimal sebelum tawakkal. Bahkan tokoh seperti Tan Malaka dan Soekarno pernah mengkritik mentalitas terjajah cara berpikir yang membuat bangsa lumpuh sebelum berjuang. Di sinilah titik krusialnya: bagaimana menyeimbangkan antara aktivisme dan ketenangan spiritual, antara kritik sosial dan kedalaman ilmu? Aktivisme tanpa fondasi ilmu bisa melahirkan kontradiksi dan simplifikasi masalah. Sebaliknya, spiritualitas tanpa kepedulian sosial bisa menjelma menjadi eskapisme. Menariknya, perdebatan ini sebenarnya bukan tentang memilih antara lisan atau hati, tetapi tentang memastikan bahwa keduanya berjalan selaras. Lisan yang tercerahkan harus lahir dari hati yang bersih.
Kritik sosial yang tajam harus ditopang oleh pemahaman agama yang kokoh. Dan perbaikan diri tidak boleh menjadi alasan untuk apatis terhadap realitas publik. Di era digital, “lisan” memang meluas maknanya. Ia bukan sekadar suara yang terucap, tetapi juga tulisan yang tersebar, analisis yang dipublikasikan, dan konten yang mengedukasi. Namun perlu diingat, membanjirnya informasi juga melahirkan ilusi aksi merasa sudah berjuang hanya karena telah berbagi konten, padahal belum tentu memberi dampak nyata. Akhirnya, mungkin yang dibutuhkan umat hari ini bukan sekadar memilih pendekatan, tetapi membangun integrasi: aktivis yang berilmu, ulama yang peka sosial, dan individu yang kuat secara spiritual sekaligus sadar politik. Perubahan besar memang sering dimulai dari perubahan diri, tetapi perubahan diri yang matang akan melahirkan kontribusi sosial yang terarah. Antara lisan dan hati, antara ikhtiar dan tawakkal, keduanya bukan untuk dipertentangkan melainkan untuk dipadukan.






















Discussion about this post