BeritaPers. Opini || Memasuki hari kedelapan belas, biasanya muncul tren nostalgia di grup-grup obrolan: “Ramadhan zaman dulu lebih syahdu, ya.” Kita mengenang suara petasan, bau sarung baru, dan suasana kampung yang damai.
Narasi ini sebenarnya adalah bentuk pelarian psikologis karena kita gagal menemukan makna Ramadhan di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang serba digital. Kita menyalahkan media sosial, menyalahkan teknologi, seolah-olah benda-benda itu yang membuat iman kita menurun.
Berhentilah menjadi manusia yang hidup di masa lalu. Keshalihanmu seharusnya tidak bergantung pada suasana. Jika kamu hanya bisa merasa religius saat mendengar suara bedug tradisional tapi merasa terganggu dengan notifikasi aplikasi adzan di ponsel, berarti imanmu sangat bergantung pada estetika, bukan pada substansi. Kita terlalu sering meromantisasi kenangan masa kecil untuk menutupi kemalasan kita dalam beradaptasi dengan tantangan iman di era algoritma.
Setiap zaman punya ujiannya sendiri. Tantangan orang zaman dulu adalah fisik, sedangkan tantangan kita sekarang adalah perhatian (attention). Pendidikan kita tidak pernah benar-benar menyiapkan kita untuk menjadi manusia yang tetap berakal sehat di tengah banjir informasi. Kita menganggap teknologi sebagai musuh agama, padahal ia hanyalah alat. Kegagalan kita adalah ketidakmampuan menggunakan alat itu untuk meningkatkan kualitas spiritual kita.
Nostalgia seringkali menjadi racun yang membuat kita berhenti berinovasi dalam beragama. Kita ingin memaksakan gaya dakwah tahun 80-an kepada anak muda generasi Z, lalu marah ketika mereka tidak tertarik. Kita harus berani membangun narasi baru yang relevan dengan masa depan. Ramadhan harusnya menjadi progresif, bukan sekadar memutar kaset lama tentang keindahan masa lalu yang sebenarnya juga tidak sesempurna yang kita ingat.
Alih-alih mengeluh tentang betapa “berbedanya” Ramadhan sekarang, cobalah untuk menjadi agen perubahan di lingkunganmu saat ini. Gunakan teknologi untuk menyebarkan kebaikan, gunakan kecepatan informasi untuk membantu mereka yang membutuhkan secara lebih efektif. Jangan biarkan waktumu habis hanya untuk merindukan sesuatu yang sudah mati, sementara masa depan imanmu sedang dipertaruhkan di tanganmu sendiri hari ini.






















Discussion about this post