BeritaPers. Opini || Malam-malam ganjil telah tiba, dan masjid-masjid mendadak penuh kembali oleh para “pemburu hadiah”. Fenomena iktikaf di malam-malam terakhir seringkali terjebak dalam narsisme spiritual yang ekstrem.
Kita datang ke masjid, mematikan ponsel (kalau ingat), dan beribadah habis-habisan karena kita ingin mendapatkan pahala seribu bulan untuk tabungan akhirat kita sendiri. Kita menjadi sangat egois, hanya peduli pada keselamatan diri sendiri tanpa memikirkan apakah kehadiran kita di sana membawa manfaat bagi orang lain.
Ini adalah ironi yang tajam. Lailatul Qadar seharusnya menjadi malam turunnya kedamaian bagi seluruh alam, namun kita menjadikannya ajang kompetisi mengumpulkan poin pahala secara individualistik. Banyak yang iktikaf tapi meninggalkan tanggung jawab di rumah, atau membiarkan pekerjaan terbengkalai demi mengejar “bonus” akhir tahun dari Tuhan. Ini adalah pola pikir transaksional yang sangat sempit. Kita memperlakukan Tuhan seperti perusahaan yang sedang bagi-bagi dividen.
Edukasi tentang Lailatul Qadar seringkali salah fokus. Kita terlalu sibuk menebak-nebak tanda-tanda alam: apakah malamnya tenang, apakah mataharinya tidak terik? Padahal, tanda yang paling nyata dari Lailatul Qadar adalah perubahan karakter seseorang setelah malam itu berlalu. Jika kamu beriktikaf tapi tetap menjadi orang yang sinis, pemarah, dan merendahkan orang lain yang tidak se-shalih kamu, maka kamu baru saja membuang-buang waktu tidurmu di masjid tanpa mendapatkan apa pun.
Apakah kamu mencari Lailatul Qadar karena kamu cinta pada Tuhan, atau karena kamu rakus akan pahala? Ada perbedaan tipis antara hamba yang rindu dan pedagang yang mencari untung. Agama tidak pernah menyuruh kita menjadi orang yang anti-sosial demi mengejar surga. Keshalihan yang sejati harusnya teruji di tengah pasar, di tengah kemacetan, dan di tengah konflik, bukan hanya di bawah lampu redup masjid saat semua orang sedang tidur.
Malam ini, cobalah untuk beribadah dengan niat untuk menjadi manusia yang lebih berguna bagi orang lain, bukan hanya agar kamu “selamat” sendiri. Mintalah agar hatimu dilembutkan untuk bisa memaafkan mereka yang menyakitimu. Jika ibadahmu tidak berujung pada perbaikan relasi kemanusiaan, maka kamu sebenarnya belum menemukan malam kemuliaan itu; kamu hanya sedang bergadang di tempat yang suci.






















Discussion about this post