BERITAPERS || PAREPARE – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Perubahan Iklim Gelombang 116 Universitas Hasanuddin mengajak masyarakat Kelurahan Watang Bacukiki membiasakan diri membawa tas belanja sendiri melalui sosialisasi penggunaan reusable tote bag.
Kegiatan bertajuk “Gerakan Ramah Lingkungan melalui Penggunaan Reusable Tote Bag sebagai Upaya Pengurangan Plastik Sekali Pakai di Watang Bacukiki” tersebut dilaksanakan di Jl. Makkarennu, Desa Mangimpuru, Kelurahan Watang Bacukiki, Kecamatan Bacukiki, Kota Parepare, Rabu (22/07/2026).
Sosialisasi ini merupakan program kerja individu Muhammad Fikhar Suratman, mahasiswa Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin.
Muhammad Fikhar mengatakan kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai dampak penggunaan kantong plastik sekali pakai dan mendorong terbentuknya kebiasaan belanja yang lebih ramah lingkungan.
“Program ini tidak hanya mengajak masyarakat untuk memiliki tote bag, tetapi juga membiasakan diri membawa dan menggunakannya secara berulang dalam aktivitas sehari-hari,” kata Fikhar.
Menurutnya, reusable tote bag dapat digunakan sebagai pengganti kantong plastik ketika masyarakat berbelanja di pasar, warung, toko, maupun minimarket.
Langkah tersebut dinilai sederhana, tetapi dapat membantu mengurangi timbulan sampah plastik langsung dari aktivitas rumah tangga.
Dalam sosialisasi itu, masyarakat memperoleh penjelasan mengenai plastik sekali pakai, dampaknya terhadap lingkungan, manfaat penggunaan tas belanja pakai ulang, serta cara membangun kebiasaan membawa tote bag.
Peserta juga mendapatkan panduan mengenai penggunaan dan perawatan tote bag agar tidak mudah rusak dan dapat digunakan dalam jangka waktu yang lebih lama.
Kegiatan didukung dengan standing banner sebagai media edukasi dan buku saku yang memuat panduan praktis pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.
Reusable tote bag turut dibagikan kepada peserta sebagai suvenir sekaligus sarana untuk menerapkan materi sosialisasi dalam aktivitas sehari-hari.
Salah seorang peserta, Ibu Hasna, mengatakan penggunaan tote bag telah diterapkan dalam sejumlah aktivitas di lingkungan pesantren.
“Di pesantren kami sudah menggunakan tote bag, terutama untuk keperluan laundry. Untuk makanan anak pesantren juga sudah tidak diperbolehkan lagi menggunakan kantong plastik,” kata Ibu Hasna.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa penggunaan tas pakai ulang dapat diterapkan tidak hanya untuk berbelanja, tetapi juga untuk membawa berbagai kebutuhan sehari-hari.
Fikhar berharap kebiasaan serupa dapat semakin berkembang di lingkungan masyarakat Watang Bacukiki.
Ia menekankan masyarakat tidak harus membeli banyak tote bag baru untuk memulai kebiasaan ramah lingkungan.
Tas belanja yang telah tersedia di rumah dan masih layak digunakan dapat dimanfaatkan kembali.
“Hal terpenting bukan membeli banyak tote bag, melainkan menggunakan tas yang sudah dimiliki secara berulang,” ujarnya.
Masyarakat disarankan menyimpan tas belanja di dalam kendaraan, tas sehari-hari, atau di dekat pintu rumah agar tidak lupa membawanya ketika bepergian.
Program ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) 4: Quality Education melalui pemberian edukasi lingkungan kepada masyarakat.
Kegiatan tersebut juga berkaitan dengan SDG 15: Life on Land melalui upaya mengurangi sampah plastik yang berpotensi mencemari tanah dan lingkungan daratan.
Melalui sosialisasi ini, masyarakat diharapkan dapat mulai menjadikan penggunaan tas belanja pakai ulang sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari.
Kegiatan ditutup dengan ajakan bersama, “Bawa Tote Bag, Kurangi Plastik, Jaga Watang Bacukiki!”





















Discussion about this post