Berita Pers. OPINI_Pernahkah kita membayangkan, ketika pulang dari kampus, sekolah, kantor atau masjid ini, tiba-tiba jantung koroner menyerang kita. Kemudian kita melihat betapa sibuknya teman-teman kita Ada yang berlari menghubungi ambulans, menghubungi sanak saudara dan tentu saja ada juga yang sibuk menggunjing, hanya saja gunjingannya berupa do’a, maklumlah kita meninggal selepas memohon ampun waktu shalat Jum’at, sebuah kebahagiaan tersendiri tentunya.
Hari itu, secara resmi dokter pribadi kita melakukan otopsi dan mengeluarkan visum et repretum. Secarik kertas yang mengesahkan kematian kita secara medis dan tentu saja sebagai persyaratan yang diminta oleh pihak Pemda (Pemerintah Daerah) adalah urusan pemakaman. Seluruh tubuh terasa dingin dan beku. Tidak bisa berbuat apa-apa, sanak saudara atau sahabat memandikan dengan sangat takjim, hikmat dan hati yang membucah penuh do’a. Seluruh kerabat dan undangan ikut menshalatkan. Rombongan prosesi kendaraan yang panjang mengantarkan jenazah kita. Bunyi sirene mengaung menyibak lalu lintas yang padat.
Matahari mulai condong ke barat, dan satu persatu seluruh saudara, teman, kerabat, tetangga meninggalkan pemakaman. Bayangkan! kini kita tergeletak sendirian dalam pengapnya tanah kuburan. Ya sendirian!
Pada saat sanak saudara mentahlilkan kita, dan berita duka cita belum lagi reda, berapa banyak cacing tanah dan belatung mengorek tubuh yang pada masanya begitu gagah dan kukuh. Detik demi detik sang jasad kian rapuh, kemudian hancur berserakan, debu mendebu seiring sang waktu. Ahhh, alangkah cepatnya kehidupan. Alangkah sedikitnya bekal untuk menempuh perjalanan yang panjang
Sesekali, berdirilah di depan cermin. Tangkaplah wajahmu dengan seluruh rasa ingin tahu yang tumpah. Simaklah setiap garis di wajahmu, rambut yang mulai memutih, mata yang mulai rabun. Kemudian raup dan sibaklah misteri dari wajahmu sendiri. Sebuah topeng kehidupan yang telah bertahun-tahun engkau hadapkan ke dunia.
Betapa sang wajah yang pernah begitu engkau banggakan. Ceria, muda, belia, indah, cantik jelita, kuat gagah perkasa. Kini telah berubah! Tengoklah betapa potret dirimu terpajang di muka cermin. Kulit yang keriput, dagu yang berlemak, garis-garis ketuaan mengurat, rambut yang mulai memutih. Kapankah perubahan itu terjadi ?
Sudah bisa dipastikan, seluruh anak manusia tidak pernah menyadari perubahan wajahnya sendiri. Padahal, kesetiaan diri untuk bercermin, menengkok wajah sudah tak terhitung bilangannya. Tapi sungguh tak pernah disadarinya kapankah perubahan wajah itu terjadi .
Hidup di zaman yang serba cepat ini, bagaikan air dalam gelas yang terus terguncang-guncang, mengikuti keasyikan permainan dunia. Seluruh kehidupan kita bagikan tak berdaya melawan arus kehidupan dunia yang semakin keras memuja waktu, mengumbar nafsu manggapai status simbol yang semakin menderu.
Setiap hari adalah rutinitas yang membelenggu, terperangkap oleh sekian banyak agenda dan kesibukan yang seakan tanpa ujung. Kita berputar-putar bagaikan melakukan tawaf mengitari kesibukan yang diciptakan diri kita sendiri. Waktu untuk sekedar merenung melakukan kontemplasi, telah dirampas oleh berbagai alasan bisnis. Do’a atau shalat sebagai lambang cinta dan sarana ritual penghambaan diri telah digeser oleh berbagai excused yang kemudian melahirkan budaya permisif, tanpa merasa ada dosa sedikitpun.
Seorang Guru pernah memberikan fatwanya, “Engkau tak pernah akan mampu menangkap gambaran wajahmu, kalau bercermin di atas air sungai yang deras”. Artinya, esensi kedirian, pengetahuan kesadaran akan hakiki ego tidak pemah akan diperoleh, apabila kita terus menerus hanyut dalam arus kehidupan dunia yang tak pernah selesai.
Maka sadarlah, bahwa hakekat kehidupan, kebenaran yang hakiki dan kebijaksanaan (wisdom), hanya akan diperoleh apabila kita sejenak menyisihkan waktu untuk merenung, berkontemplatif dan terjun memasuki samudera diri sendiri.
Memang dunia itu adalah sebuah realitas, yang tidak bisa dihindari, karena keberadaan kita hanya punya arti apabila diri kita mau mengada, mendunia. Tetapi harus difahami dengan penuh kesadaran, bahwa manusia bukanlah benda, tetapi dia adalah persona adalah juga nafsi. Ada kualitas ruh di balik wadahnya.
Al-Qur’an menempatkan dunia sebagai sebuah realita. Tetapi harga dunia menurut Al-Qur’an adalah sangat kecil, bahkan disebutkannya sebagai permainan, perhiasan yang sesaat. Pernah suatu saat Rasulullah ditanya oleh seorang sahabat. Bagaimanakah luasnya kenikmatan akhirat bila dibandingkan dunia, maka Rasulullah bersabda, “Celupkanlah jarimu kedalam lautan, maka air yang menetes dari jarimu itulah dunia dengan segala isinya, sedangkan samudera itulah akhirat.”
(Anwar)






















Discussion about this post