BERITAPERS || MAMUJU, SULBAR — Sejumlah pekerja menutup akses masuk proyek Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) Sulawesi Barat di Kelurahan Rangas, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju, Selasa (29/9/2026).
Penutupan akses tersebut dilakukan sebagai bentuk protes atas klaim belum dibayarkannya pekerjaan yang dikerjakan pihak subkontraktor kepada kontraktor proyek. Para pekerja menyebut nilai pekerjaan yang belum dibayarkan mencapai sekitar Rp3 miliar.
Akses masuk proyek ditutup menggunakan alat berat jenis Bomag. Para pekerja mengaku mengambil langkah tersebut setelah pekerjaan pengecoran jalan yang mereka tangani dinyatakan rampung sejak Agustus 2026, namun pembayaran kepada pihak subkontraktor disebut belum direalisasikan.
Kepala tukang, Sahrul, mengatakan pekerjaan jalan tersebut mulai dikerjakan sejak akhir Mei 2026 dan berlangsung dengan sistem kerja siang dan malam.
“Ini kami kerjakan jalannya, sudah selesai 100 persen sejak bulan Agustus 2026, tapi sampai sekarang belum dibayar sepeser pun,” kata Sahrul kepada wartawan, Selasa (29/9/2026).
Menurut Sahrul, pekerjaan yang mereka tangani meliputi pembangunan jalan sepanjang sekitar 1.200 meter dengan lebar enam meter.
“Ini kami kerjakan jalan lebih dari satu kilometer, semuanya sudah rampung, tapi cuma dijanji-janji,” ujarnya.
Sahrul mengungkapkan, pihaknya telah beberapa kali memperoleh janji terkait pembayaran. Namun, hingga aksi dilakukan, menurut pengakuannya, belum ada pembayaran yang diterima.
Kondisi tersebut, kata dia, berdampak langsung kepada para pekerja yang terus menuntut pembayaran upah atas pekerjaan yang telah mereka lakukan.
Hal senada disampaikan Lulu, yang juga disebut sebagai kepala tukang. Ia mengatakan sekitar 50 pekerja terlibat dalam pekerjaan tersebut dan hingga kini belum menerima upah.
“Kami sudah bekerja selama lima bulan, selama lima bulan kerja belum ada digaji. Upah kerja tidak dibayarkan karena subkon proyek SR tempat kami bekerja belum dibayar. Dana subkon yang belum dibayarkan oleh kontraktor sebesar Rp3 miliar,” ungkap Lulu saat ditemui di depan Kantor Sekolah Rakyat, Kelurahan Rangas, Kecamatan Simboro.
Lulu menyebut sebagian besar pekerja direkrut dari lingkungan tempat tinggalnya di Tahaya Haya. Ia mengaku kondisi tersebut turut menimbulkan tekanan terhadap dirinya karena keluarga pekerja mempertanyakan pembayaran upah.
“Lima puluh pekerja SR tersebut semuanya saya yang cari. Rata-rata pekerja tersebut adalah tetangga saya di Tahaya Haya. Akibatnya, keluarga pekerja sering mendatangi rumah saya dan meminta upah suaminya dibayarkan,” jelasnya.
Para pekerja menyatakan akan mempertimbangkan melanjutkan aksi apabila belum terdapat kepastian mengenai penyelesaian pembayaran. Mereka meminta pihak-pihak terkait memberikan kejelasan mengenai status pembayaran pekerjaan dan pemenuhan hak para pekerja.
Aksi tersebut sekaligus menjadi perhatian terhadap penyelesaian kewajiban pembayaran dalam pelaksanaan proyek, khususnya agar persoalan antara kontraktor, subkontraktor, dan pekerja tidak berlarut-larut.
Hingga berita ini diterbitkan, PT Hutama Karya belum memberikan keterangan resmi terkait klaim tunggakan pembayaran sekitar Rp3 miliar maupun penutupan akses masuk proyek SRT Sulawesi Barat tersebut. Karena itu, nilai tunggakan dan penyebab belum dibayarkannya pekerjaan tersebut masih merupakan klaim dari pihak pekerja dan memerlukan konfirmasi dari pihak kontraktor maupun pihak terkait lainnya. (**)










