BeritaPers. Opini – Di tengah gemuruh peradaban digital yang terus berputar, Ramadan hadir sebagai oase ketenangan, sebuah jeda suci dari hiruk-pikuk dunia maya. Namun, di balik ketenangan yang ditawarkan, tersembunyi sebuah paradoks: bagaimana kita menjaga kekhusyukan ibadah di tengah gempuran informasi dan distraksi digital?
Teknologi, dengan segala kemudahannya, telah mengubah cara kita menjalani Ramadan. Aplikasi pengingat waktu salat, Al-Qur’an digital, dan kajian daring menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas harian. Media sosial pun menjadi sarana untuk menyebarkan kebaikan, mempererat silaturahmi, dan berbagi momen-momen indah Ramadan. Namun, di balik kemudahan ini, tersimpan potensi distraksi yang mengancam kekhusyukan ibadah.
Bayangkan, di tengah khusyuknya salat tarawih, notifikasi ponsel berbunyi, mengalihkan perhatian dari bacaan imam. Atau, saat sedang tadarus Al-Qur’an, godaan untuk membuka media sosial begitu kuat, hingga akhirnya waktu berlalu tanpa terasa. Inilah ironi Ramadan di era digital: kemudahan yang ditawarkan teknologi seringkali menjadi jebakan yang mengalihkan fokus dari esensi ibadah.
Alih-alih fokus pada refleksi spiritual, banyak yang terperangkap dalam pusaran konten digital yang tak berujung, notifikasi yang mengganggu, dan godaan dunia maya lainnya. Waktu yang seharusnya diisi dengan ibadah dan tadarus Al-Qur’an justru terbuang percuma untuk berselancar di media sosial, bermain gim daring, atau menonton video yang tidak bermanfaat.
Oleh karena itu, kebijaksanaan dalam penggunaan teknologi menjadi kunci utama. Kita harus mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan, antara manfaat dan mudarat. Teknologi komunikasi harus dimanfaatkan sebagai alat untuk mendukung ibadah, bukan sebagai penghalang. Ini bukan berarti kita harus sepenuhnya menjauhi dunia digital, tetapi lebih kepada bagaimana kita mengelola interaksi kita di dalamnya.






















Discussion about this post