BeritaPers || Ada sesuatu yang lebih menarik dari sekadar seremoni Wisuda UIN Alauddin Makassar Angkatan ke-121 pada Selasa, 15 September 2026. Di antara toga dan kebahagiaan keluarga, terselip kisah Katarina Leba Tukan, wisudawati Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Adab dan Humaniora, seorang perempuan Katolik yang menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi Islam.
Katarina datang ke kampus yang mayoritas Muslim. Namun, perbedaan agama tidak membuatnya menjadi orang asing. Ia belajar, berdiskusi, berorganisasi, membangun persahabatan, dan tumbuh bersama lingkungan akademik. Pengalamannya kemudian dituangkan dalam buku berjudul Aku Datang Sendiri, yang merekam perjalanan, pergulatan, dan refleksinya sebagai perempuan minoritas dalam lingkungan akademik yang berbeda keyakinan. Pada momentum wisuda tersebut, buku itu mendapat apresiasi dari Rektor UIN Alauddin Makassar.
Kisah Katarina menghadirkan pertanyaan sederhana, ketika seseorang yang berbeda memasuki ruang yang mayoritasnya berbeda, apakah ia akan dianggap asing, atau diterima sebagai sesama manusia yang memiliki hak yang sama untuk belajar, berkembang, dan bermimpi?
Pengalamannya menunjukkan bahwa seseorang tidak harus kehilangan identitas untuk diterima. Ia tidak harus menjadi sama untuk mendapatkan tempat. Justru di situlah keindahan keberagaman. Persaudaraan tidak selalu lahir dari kesamaan agama, tetapi dari rasa hormat, persahabatan, kepedulian, dan kemanusiaan.
Kampus semestinya menjadi ruang perjumpaan berbagai latar belakang, pemikiran, pengalaman, dan keyakinan. Perbedaan bukan tembok, melainkan jendela untuk melihat dunia dari perspektif yang lebih luas. Karena itu, toleransi bukan sekadar membiarkan seseorang berbeda, tetapi memberikan ruang untuk hadir, belajar, berkarya, dan menjadi bagian dari keluarga akademik.
Dalam kisah Katarina, UIN Alauddin Makassar dapat dilihat sebagai ruang perjumpaan antara identitas Islam dan keberagaman. Identitas sebagai kampus Islam tidak harus dimaknai sebagai eksklusivitas, tetapi dapat diwujudkan melalui keterbukaan, penghormatan terhadap martabat manusia, dan penghargaan terhadap perbedaan. Sebab tugas pendidikan tinggi bukan hanya mencetak sarjana, tetapi juga manusia yang mampu hidup bersama mereka yang berbeda.
Kisah ini juga mengingatkan bahwa minoritas bukan berarti manusia kelas kedua. Setiap orang berhak merasa aman, dihargai, didengar, dan memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang. Ukuran keberhasilan sebuah institusi pendidikan bukan hanya jumlah lulusan berprestasi, tetapi juga sejauh mana ia mampu membuat orang yang berbeda tetap merasa menjadi bagian dari keluarga akademiknya.
Katarina datang sebagai perempuan Katolik ke kampus yang mayoritas Muslim dan pulang membawa gelar sarjana. Namun, mungkin ada sesuatu yang lebih berharga pengalaman bahwa perbedaan tidak selalu menciptakan jarak. Justru melalui perbedaan, manusia dapat menemukan persahabatan dan persaudaraan.
Aku datang sendiri, mungkin menjadi kalimat yang menggambarkan awal perjalanannya. Tetapi kisah Katarina menunjukkan bahwa ia tidak pernah benar-benar sendiri. Di tengah perbedaan agama, ia menemukan persahabatan; di tengah identitas minoritas, ia menemukan penerimaan; dan di tengah keberagaman, ia menemukan kemanusiaan.
Inilah makna pendidikan yang sesungguhnya: bukan hanya membuat manusia menjadi pintar, tetapi mengajarkan bagaimana hidup bersama tanpa harus kehilangan identitas masing-masing.










