BeritaPers || Ada sebuah kekuatan magis yang tercipta ketika kalender mencapai lembar terakhirnya. Di sebuah taman yang menyimpan ribuan fragmen memori, akhir tahun bukan lagi sekadar perayaan angka, melainkan sebuah ritual kepulangan. Di sinilah kita, duduk melingkar di antara pepohonan yang saksi bisu perjuangan kita setahun terakhir, merayakan kebersamaan yang terasa begitu organik dan jujur.
Di pelataran taman, tersaji harmoni rasa yang tidak mewah namun sangat “mahal” maknanya. Ikan Pallumara dengan kuah kuningnya yang segar seolah merangkum dinamika tahun ini ada asam dan pedasnya tantangan, namun selalu berakhir gurih jika dinikmati dengan sabar. Kehadiran Sukun dan Ubi Goreng menambah kehangatan; camilan sederhana yang mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati tidak butuh validasi dunia, cukup senyum orang-orang tercinta di bawah langit senja.
Sementara itu, Ketupat Nasi yang tersaji rapi menjadi simbol filosofis yang paling dalam. Butir-butir nasi yang menyatu erat dalam anyaman janur adalah representasi dari kita individu yang berbeda namun terikat kuat oleh kasih sayang, saling menguatkan agar tidak goyah diterpa angin perubahan. Di taman ini, makanan bukan hanya pengenyang perut, tapi perekat jiwa. Menatap 2026 dengan Hati yang Baru Sambil menikmati suapan terakhir, pikiran kita perlahan terbang
menuju gerbang 2026. Jika 2025 adalah tahun tentang bertahan, maka biarlah 2026 menjadi tahun tentang “bertumbuh”.Doa untuk 2026, Ya Tuhan, di atas tanah taman yang penuh kenangan ini, kami menitipkan harap. Di tahun 2026 nanti, jangan biarkan hati kami mengeras oleh ambisi. Lembutkanlah kami dengan rasa syukur sesederhana, kuatkanlah tekad kami selayaknya akar pohon di taman ini. Semoga setiap langkah kami di tahun depan selalu beriringan dengan rida-Mu dan kehangatan yang tak pernah pudar. Tahun 2026 adalah sebuah buku dengan 365 halaman kosong. Pesan kami sederhana jangan terburu-buru mengisinya dengan pencapaian materi saja. Isilah dengan lebih banyak waktu berkualitas, lebih banyak percakapan di taman, dan lebih banyak momen berbagi piring seperti hari ini. Karena pada akhirnya, yang kita ingat di akhir tahun bukanlah saldo bank, melainkan siapa yang masih setia memegang tangan kita saat dunia sedang tidak baik-baik saja. Selamat tinggal masa lalu yang telah membentuk kita. Selamat datang, 2026. Mari kita buat setiap detiknya menjadi kenangan baru yang layak diceritakan kembali di taman ini, setahun dari sekarang.






















Discussion about this post