Sesekali ia tersenyum kecil, menyadari betapa hidup sering kali terlalu bising. Malam di taman mengajarkannya arti cukup duduk, cukup diam, cukup menjadi diri sendiri tanpa perlu pembuktian. Dalam kesederhanaan itu, hatinya terasa lebih ringan, seolah malam ikut memeluk tanpa bertanya apa pun.
Ketika jarum waktu terus bergerak, Angkilang bangkit dari duduknya dengan perasaan yang lebih utuh. Ia tahu, esok hari dunia akan kembali menuntut banyak hal. Namun malam ini, di taman yang sunyi, ia telah menemukan jeda yang bermakna sebuah pengingat bahwa menikmati hidup kadang sesederhana memberi waktu pada diri sendiri untuk benar-benar hadir.






















Discussion about this post