BeritaPers || Duduk sendiri di bangku taman, di bawah lampu kuning yang redup namun setia menerangi malam. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang baru disiram hujan sore tadi. Malam minggu terasa berbeda di taman itu lebih jujur, lebih tenang, seolah waktu sengaja melambat agar setiap detik bisa benar-benar dirasakan.
Ia memandang langit yang gelap, bertabur cahaya samar dari bintang yang malu-malu muncul. Di kejauhan terdengar tawa orang-orang yang berlalu, namun suara itu tak mengganggu pikirannya. Angkilang justru merasa ditemani oleh kesunyian, oleh suara jangkrik dan dedaunan yang saling bersentuhan, menciptakan irama sederhana yang menenangkan.
Bangku taman yang dingin menjadi saksi bagaimana pikirannya berjalan jauh. Tentang hari-hari yang telah lewat, tentang lelah yang jarang diucapkan, dan tentang harapan kecil yang masih ia simpan rapat. Di bawah langit malam, Angkilang belajar bahwa tidak semua beban harus diceritakan sebagian cukup dilepaskan perlahan melalui napas yang panjang.






















Discussion about this post