BERITAPERS || MAKASSAR – Arus lalu lintas di kawasan strategis Fly Over Jalan A.P. Pettarani, Makassar, mengalami lumpuh total pada Jumat sore (27/2/2026).
Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Sulawesi Selatan menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran guna mengkritik kebijakan pemerintahan Prabowo-Gibran yang dinilai tidak berpihak pada rakyat.
Aksi yang dimulai pukul 14.00 WITA ini dipimpin oleh Saudara Dg. Surri dari STIEM Bongayya. Massa yang awalnya berjumlah 20 orang terus bertambah hingga mencapai 30 aktivis dari berbagai universitas se-Kota Makassar.
Orasi di Atas Truk dan Bakar Ban
Pantauan liputan di lokasi, massa aksi menunjukkan perlawanan simbolis dengan membakar ban bekas di tengah perempatan jalan, yang mengakibatkan kepulan asap hitam membumbung tinggi.
Tak hanya itu, sekitar pukul 14.50 WITA, mahasiswa sempat menahan tiga unit mobil truk roda enam, termasuk jenis Isuzu (DD 8187 DG) dan Mitsubishi Cold (DD 8983 RH), untuk dijadikan panggung orasi darurat.
Dalam orasinya, massa membentangkan spanduk mencolok bertuliskan: “Tolak Koperasi Merah Putih yang Merampas Hidup Rakyat” dan “Aliansi Mahasiswa Sulsel Tolak MBG, Tolak Koperasi Merah Putih, Tolak Pembangunan Batalyon”.
Lima Tuntutan Krusial: Dari Korupsi MBG hingga Tragedi Hukum Aliansi Mahasiswa Sulsel membawa lima poin pernyataan sikap yang menjadi dasar kegelisahan mereka:
Tolak Program MBG (Makan Bergizi Gratis): Mahasiswa menilai program ini rawan menjadi ladang korupsi bagi pemegang kekuasaan.
Mereka menyoroti adanya pemotongan porsi anggaran di berbagai daerah. “Uang rakyat bukan alat politik, tapi amanah!” tegas salah satu orator.
Usut Tuntas Pembunuhan Siswa Madrasah di Tual: Massa mendesak aparat penegak hukum untuk tidak “bermain mata” dan segera menyeret aktor intelektual di balik kasus ini, bukan hanya pelaku kecil.
Tolak Koperasi Merah Putih: Pembangunan koperasi ini dinilai dipaksakan tanpa musyawarah dan hanya menjadi alat konsolidasi kepentingan elit, bukan ekonomi rakyat.
Tolak Pembangunan Batalyon di Atas Tanah Rakyat: Mahasiswa mengecam perampasan tanah warga atas nama proyek pembangunan. Mereka menegaskan bahwa pembangunan yang berdiri di atas penderitaan rakyat adalah bentuk penindasan.
Ungkap Dalang Utama Tragedi 29 Agustus 2025: Massa menuntut transparansi hukum dan menolak adanya “kambing hitam” dalam pengusutan dalang intelektual tragedi tersebut.
Kondisi Lalu Lintas dan Pengamanan
Kehadiran satu regu Patroli Sabhara Polrestabes Makassar pada pukul 15.00 WITA berupaya menjaga situasi agar tetap kondusif.
Namun, pembakaran ban kembali dilakukan pada pukul 16.00 WITA, yang membuat kemacetan semakin mengular di sepanjang jalan protokol tersebut.
Aksi ini merupakan tindak lanjut dari konsolidasi lintas kampus yang dilakukan sejak Kamis (26/2).
Para aktivis mengklaim bahwa isu yang mereka bawa selaras dengan kegelisahan tokoh-tokoh bangsa di media nasional terkait dampak kebijakan pemerintah terhadap kesejahteraan masyarakat.
Massa akhirnya membubarkan diri secara tertib pada pukul 17.10 WITA. Meski aksi berakhir dengan aman terkendali, para demonstran mengancam akan kembali turun ke jalan dengan massa yang lebih besar jika tuntutan mereka tidak segera direspon oleh pemerintah pusat.






















Discussion about this post