GAZA- Di tengah badai cuaca hebat yang melanda Jalur Gaza, penderitaan warga semakin memburuk secara tragis. Puluhan ribu keluarga menghadapi dinginnya cuaca, angin kencang, dan hujan lebat, sementara mereka dibiarkan tanpa tempat berlindung yang layak untuk melindungi diri dari kerasnya musim dingin dan badai.
Sebagian besar keluarga yang tinggal di tenda terdampak langsung oleh badai dan angin kencang. Banyak tenda rusak atau tercabut seluruhnya, dan air hujan menggenangi tempat tidur serta barang-barang sederhana mereka, memperparah penderitaan dan meninggalkan mereka di ruang terbuka, terutama anak-anak, lansia, dan orang sakit.
Meski ada pembicaraan mengenai kesepakatan dan gencatan senjata, penjajahan Israel terus melanggar komitmennya dengan melarang masuknya tenda, rumah bergerak, dan hunian sementara, serta pakaian musim dingin, alat pemanas, dan bahan pangan. Kebijakan hukuman kolektif ini merampas hak warga sipil atas kebutuhan hidup paling dasar.
Akibat kondisi mematikan ini, lebih dari 14 orang gugur karena runtuhnya rumah-rumah yang sebelumnya telah dibombardir. Sejumlah keluarga terpaksa tinggal di bawah reruntuhan karena tidak tersedianya tenda atau alternatif tempat tinggal yang aman, sehingga hujan dan angin menjadi penyebab langsung hilangnya nyawa.
Perang terhadap Gaza tidak pernah berhenti, tetapi kini dijalankan dengan cara lain: melalui pengepungan, pelarangan tempat tinggal, kelaparan, dan membiarkan warga menghadapi kematian perlahan di bawah hujan dan badai, di tengah kebisuan internasional yang memalukan serta penutupan perlintasan dan larangan masuknya kebutuhan hidup oleh penjajahan.










