BeritaPers. Opini || Undangan Buka Bersama (Bukber) di hari kesebelas ini biasanya datang bertubi-tubi, mulai dari grup SD yang sudah tidak jelas anggotanya sampai rekan kantor yang baru dikenal kemarin sore. Ada semacam tekanan sosial yang memaksa kita untuk hadir, bukan karena rindu, tapi karena takut dianggap tidak eksis atau lebih buruk lagi: dianggap sedang bangkrut. Meja-meja restoran mewah penuh dipesan, sementara esensi puasa sebagai latihan menahan diri perlahan-lahan mulai menguap bersama uap makanan yang dipesan berlebihan.
Bukber telah bertransformasi menjadi panggung “teater konsumsi”. Kita tidak lagi datang untuk bertukar cerita, melainkan untuk memamerkan pencapaian material lewat pakaian, kendaraan, hingga gadget terbaru. Ritual memotret makanan sebelum menyentuhnya menjadi wajib, seolah-olah validasi dari pengikut di media sosial lebih penting daripada keberkahan dari apa yang masuk ke tenggorokan. Ini adalah bentuk narsisme yang dibalut dengan jubah silaturahmi.
Jika kita mau jujur, banyak dari acara ini yang justru mengorbankan kewajiban yang lebih besar. Demi mendapatkan spot foto yang bagus atau menunggu hidangan utama keluar, seringkali shalat Maghrib terabaikan atau dilakukan terburu-buru di pojok mushola sempit yang tidak nyaman. Kita sedang melakukan pertukaran spiritual yang sangat merugikan: menukar kekhusyukan dengan konten, dan menukar ketulusan dengan citra. Provokasinya sederhana, apakah kamu merasa kenyang karena makanan itu, atau karena ego yang baru saja diberi makan oleh decak kagum orang lain?
Pendidikan moral kita seolah-olah berhenti di depan pintu restoran. Kita diajarkan untuk peka terhadap yang lapar, namun di meja Bukber, sampah makanan (food waste) justru meningkat drastis. Kita memesan seolah-olah perut ini adalah lubang tanpa dasar, namun saat adzan tiba, dua teguk air dan sepotong gorengan sudah cukup membuat kita menyerah. Sisanya? Hanya jadi tumpukan piring yang akan dibuang, mengkhianati jutaan orang di luar sana yang masih bingung mencari sesuap nasi.
Maka, cobalah untuk sekali saja menghadiri Bukber tanpa perlu mengeluarkan ponsel dari saku. Rasakan kecemasan yang muncul saat kamu tidak bisa membagikan momen itu ke dunia. Jika kamu merasa acara itu jadi tidak berarti hanya karena tidak ada orang lain yang melihatnya, maka selamat, kamu baru saja menyadari bahwa motivasi sosialmu jauh lebih besar daripada motivasi ibadahmu.






















Discussion about this post