BeritaPers. Opini || Memasuki fase pertengahan, media sosial mendadak berubah menjadi sidang mahkamah agama yang paling gaduh di dunia. Semua orang, tanpa latar belakang pendidikan agama yang jelas, mendadak merasa punya otoritas untuk menghakimi ibadah orang lain. Di kolom komentar, perdebatan soal sah tidaknya puasa seseorang karena hal-hal sepele seperti memakai lipstik atau tidak sengaja menghirup bau masakan, dibahas dengan nada yang lebih galak dari sipir penjara. Kita merasa menjadi “polisi Tuhan” yang bertugas menjaga surga dari orang-orang yang menurut kita tidak layak.
Fenomena ini menunjukkan arogansi moral yang akut di tengah masyarakat kita. Kita begitu terobsesi pada formalitas fiqih hingga melupakan substansi akhlak. Menghujat orang lain di internet demi membela kebenaran agama adalah sebuah paradoks yang konyol. Bagaimana mungkin kita menjaga kesucian puasa dengan cara merusak kehormatan orang lain melalui kata-kata yang kasar? Ini bukan lagi tentang edukasi, tapi tentang kompetisi merasa paling shalih di hadapan algoritma.
Ini adalah gejala hilangnya kerendahhatian intelektual. Kita merasa sudah cukup hanya dengan membaca satu-dua potongan video ceramah singkat di TikTok untuk kemudian menyerang pemikiran yang berbeda. Pendidikan agama yang seharusnya melunakkan hati justru dijadikan senjata untuk memukul. Kita sangat takut masuk sebutir nasi ke kerongkongan, namun kita merasa santai saja memuntahkan kebencian dari mulut yang sama.
Ada diskoneksi yang mengerikan antara ritual yang kita jalani dengan perilaku sosial kita. Puasa seharusnya mendidik kita untuk memiliki kontrol diri (self-control), tapi yang terjadi di dunia digital justru sebaliknya. Kita menjadi makhluk yang impulsif, mudah tersinggung, dan sangat senang melihat orang lain terlihat salah. Kita lebih peduli pada label “halal” pada makanan daripada label “halal” pada cara kita berinteraksi dengan sesama manusia.
Apa gunanya mulutmu terkunci dari makanan selama belasan jam jika jempolmu masih liar menyebarkan fitnah dan penghakiman? Tuhan tidak butuh dibela oleh kebencianmu. Puasa yang sejati seharusnya membuatmu lebih sibuk mengoreksi diri sendiri daripada sibuk menjadi hakim bagi dosa orang lain. Jika hari ini kamu masih merasa lebih baik dari orang lain hanya karena kamu puasa, mungkin puasamu baru sampai di kerongkongan saja.






















Discussion about this post