BeritaPers. Opini || Kita memperingati turunnya Al-Quran dengan berbagai acara seremoni, mulai dari pengajian akbar hingga lomba hafalan ayat. Namun, seringkali semuanya berhenti di level tenggorokan. Kita bangga bisa membaca dengan nada yang indah, kita bangga bisa mengkhatamkan berkali-kali, namun perilaku kita di jalan raya, di kantor, dan di rumah tetap jauh dari nilai-nilai yang kita baca. Al-Quran telah berubah menjadi teks magis yang hanya dibaca untuk mendapatkan pahala per huruf, bukan sebagai panduan hidup yang radikal.
Untuk apa kamu menghafal ayat tentang kejujuran jika kamu masih suka menyuap atau melakukan pungli? Pendidikan agama kita terlalu berat pada aspek kognitif dan hafalan, namun sangat lemah dalam aspek implementasi sosial.
Kita memproduksi orang-orang yang mahir berbahasa langit, tapi gagap saat berurusan dengan masalah kemanusiaan di bumi. Quran bukan jimat penghias rak buku; ia adalah kritik terhadap status quo dan ketidakadilan.
Literasi agama kita sedang mengalami degradasi makna. Kita lebih peduli pada hukum tajwid daripada hukum keadilan sosial. Kita bisa berdebat berjam-jam soal makhraj huruf, tapi kita diam seribu bahasa melihat perampasan lahan atau korupsi di depan mata. Jika kitab suci tidak lagi memberikan efek kegelisahan pada nuranimu saat melihat kemungkaran, maka mungkin kamu salah dalam cara membacanya.
Al-Quran seharusnya menjadi cermin yang menakutkan, yang menunjukkan betapa buruknya batin kita. Namun, kita justru menggunakannya sebagai aksesoris untuk mempercantik diri agar terlihat religius. Kita mengutip ayat-ayat sesuai kebutuhan ego kita, memilih yang menyenangkan dan mengabaikan yang berisi teguran keras. Ini adalah manipulasi spiritual yang halus namun mematikan. Kita sedang mendidik generasi yang pandai berdalil tapi miskin integritas.
Malam ini, berhentilah mengejar target khatam sejenak. Ambillah satu ayat saja, baca terjemahannya, dan tanyakan pada dirimu: “Sudahkah aku melakukan ini dalam hidupku?” Jika jawabannya belum, maka teruslah membacanya sampai hatimu merasa sakit dan tergerak untuk berubah. Membaca dengan pemahaman jauh lebih mulia daripada sekadar menyelesaikan 30 juz dengan pikiran yang terbang entah ke mana.






















Discussion about this post