BeritaPers. Opini || Malam-malam ganjil terakhir telah tiba, dan masjid-masjid mendadak penuh sesak oleh kaum “pemburu diskon” surga. Fenomena iktikaf di sepuluh malam terakhir seringkali terjebak dalam narsisme spiritual yang konyol. Kita membawa bantal, selimut, hingga gadget ke dalam rumah Tuhan, lalu menghabiskan waktu dengan bergadang sambil sesekali melirik jam. Apakah kamu sedang benar-benar berdiam diri untuk Tuhan, atau hanya sekadar memindahkan jam tidurmu ke tempat yang lebih religius agar tidak merasa berdosa?
Iktikaf telah menjadi semacam tren pelarian dari kepenatan dunia, namun tanpa pelepasan ego. Kita melihat banyak orang yang beriktikaf tapi tetap sibuk memantau notifikasi grup WhatsApp, seolah-olah dunia akan runtuh tanpa kehadiran jempol mereka. Di mana letak penyerahan diri jika pikiranmu masih tersangkut pada cicilan dan ambisi karier? Kita sedang terjebak dalam ritual mekanis yang kehilangan ruhnya, menjadikan masjid sebagai hotel syariah gratisan demi mengejar label “hamba yang taat”.
Ini adalah gejala alienasi spiritual. Kita merasa telah melakukan hal besar dengan berdiam diri di masjid, namun secara kognitif kita tidak mengalami transformasi apa pun. Pendidikan agama kita terlalu fokus pada rukun fisik apa yang harus dilakukan tangan dan kaki tapi abai pada apa yang harus dilakukan oleh kesadaran. Iktikaf yang sejati seharusnya meruntuhkan kesombongan, bukan malah membangun rasa percaya diri yang berlebihan bahwa kita sudah lebih suci dari mereka yang tertidur di rumah.
Berapa banyak dari para pelaku iktikaf ini yang tetap menjaga lisannya saat keluar dari gerbang masjid? Seringkali, energi yang dikumpulkan di malam hari justru digunakan untuk menghakimi mereka yang tidak ikut begadang di masjid. Ada keangkuhan yang terselip dalam jubah kekhusyukan kita. Kita merasa menjadi “VIP” di mata Tuhan, padahal mungkin kita hanya sedang memuaskan dahaga ego untuk diakui sebagai orang yang paling shalih di lingkungan kita.
Maka, jika malam ini kamu berniat iktikaf, tinggalkan semua atribut kebanggaanmu di luar gerbang. Jangan bawa rasa “lebih baik” dari orang lain ke dalam sujudmu. Jika setelah sepuluh malam kamu tetap menjadi manusia yang sama yang pelit, yang pemarah, dan yang haus pujian maka kamu tidak sedang mendapatkan Lailatul Qadar; kamu hanya sedang mengalami gangguan pola tidur di tempat yang suci.






















Discussion about this post