BeritaPers. Opini || Tiket sudah di tangan, dan persiapan mudik mulai menguras emosi. Mudik bukan sekadar pulang kampung; ia adalah panggung pameran keberhasilan bagi kaum urban yang haus akan pengakuan. Kita memaksakan diri membeli baju baru, menyewa mobil yang lebih bagus dari kemampuan, dan menyiapkan “uang tempel” dalam jumlah besar hanya agar dianggap “sudah jadi orang” di depan tetangga desa. Ini adalah sirkus tahunan yang melelahkan, di mana kejujuran seringkali dikurbankan demi sebuah gengsi semu.
Mudik telah bergeser dari tradisi silaturahmi menjadi kompetisi kelas sosial. Kita pulang bukan untuk meminta maaf kepada orang tua, tapi untuk memamerkan betapa kerasnya Jakarta telah mengubah kita menjadi orang yang tampak sukses. Provokasinya: apa gunanya kamu berpuasa sebulan penuh jika tujuannya hanya untuk memupuk sifat sombong saat tiba di kampung halaman? Kita sedang merayakan kemenangan semu yang dibangun di atas tumpukan hutang dan kepalsuan.
Mudik menunjukkan kegagalan kita dalam mendefinisikan jati diri. Kita merasa tidak berharga jika tidak pulang dengan membawa simbol-simbol kemewahan. Pendidikan kita tidak pernah benar-benar mengajarkan bahwa nilai manusia terletak pada karakternya, bukan pada apa yang ia kendarai. Maka jangan heran jika jalan raya berubah menjadi medan perang ego, di mana semua orang ingin terlihat lebih cepat, lebih hebat, dan lebih penting dari pengendara lainnya.
Ada kelelahan yang tidak masuk akal dalam prosesi ini. Kita rela bermacet-macetan puluhan jam, membuang jutaan rupiah, dan mempertaruhkan keselamatan hanya untuk sebuah ritual “pulang”. Namun, apakah kita pernah melakukan perjalanan “pulang” ke dalam hati nurani kita sendiri? Kita begitu terobsesi pada kampung halaman fisik, sementara jiwa kita tetap terasing dan jauh dari kedamaian. Mudik menjadi pelarian dari kehampaan hidup yang tidak pernah kita selesaikan di kota.
Tahun ini, cobalah pulang dengan wajah yang paling jujur. Jangan gunakan baju baru sebagai tameng untuk menutupi kegagalanmu menjadi manusia yang lebih baik. Jika kamu merasa berat hati untuk pulang tanpa membawa kemewahan, berarti kamu belum merdeka dari penilaian orang lain. Ramadhan seharusnya melatihmu untuk hanya peduli pada penilaian Tuhan, bukan pada bisik-bisik tetangga yang hanya akan mengingatmu karena besarnya angpao yang kamu berikan.






















Discussion about this post