BeritaPers. Opini || Pasar-pasar semakin sesak, dan toko-toko baju mulai berubah menjadi medan perang. Kita sedang menyaksikan puncak dari kemunafikan massal: bulan yang seharusnya untuk menahan hawa nafsu ditutup dengan ledakan belanja yang gila-gilaan. Kita menghabiskan sisa Ramadhan bukan di masjid, tapi di kasir mal, memburu diskon dengan agresivitas yang mengerikan. Hedonisme ini dibalut dengan label “persiapan lebaran”, seolah-olah tuhan hanya menerima doa dari mereka yang berpakaian baru dan bermerek.
Kita sedang mewariskan nilai yang salah pada generasi mendatang. Kita mengajarkan mereka bahwa kebahagiaan lebaran adalah tentang apa yang menempel di badan, bukan apa yang ada di dalam hati. Provokasinya: jika kamu merasa lebaranmu kurang sah tanpa baju baru, berarti kamu baru saja mengakui bahwa puasamu selama ini tidak memberikan kepuasan spiritual apa pun. Kamu sedang mencoba menambal lubang di jiwamu dengan potongan-potongan kain mahal yang akan usang dalam sebulan.
Dunia industri tertawa melihat perilaku kita. Mereka tahu betul bagaimana memanipulasi rasa bersalah dan kerinduan kita menjadi nafsu belanja yang tak terkendali. Ramadhan yang suci telah dikomersialisasikan sedemikian rupa hingga kita tidak bisa lagi membedakan antara kebutuhan ibadah dan keinginan nafsu. Kita terjebak dalam lingkaran konsumsi yang tidak berujung, di mana kemenangan spiritual digantikan dengan kepuasan setelah menggesek kartu kredit.
Ini adalah bentuk kegagalan mengendalikan diri. Kita berpuasa di siang hari hanya untuk membalas dendam di malam hari, dan kita menahan belanja di awal bulan hanya untuk meledakkannya di akhir bulan. Tidak ada perubahan perilaku, yang ada hanyalah penundaan nafsu. Jika begini caranya, apa bedanya kita dengan binatang yang hanya menahan lapar karena tidak ada makanan, lalu melahap segalanya saat kesempatan itu datang?
Cobalah untuk tidak membeli baju baru tahun ini. Rasakan bagaimana egomu memberontak dan merasa malu menghadapi hari raya. Jika kamu merasa rendah diri hanya karena memakai baju lama, maka kamu telah menemukan musuh terbesarmu yang sebenarnya: yaitu rasa haus akan validasi manusia. Kemenangan sejati adalah saat kamu bisa berdiri dengan bangga di hari raya, meski tanpa satu pun barang baru di badanmu, karena jiwamu telah diperbarui oleh puasa yang tulus.






















Discussion about this post