BeritaPers. Opini || Malam-malam terakhir Ramadhan mulai dihiasi dengan latihan takbir yang semakin keras. Sayangnya, takbir seringkali kehilangan kesyahduannya dan berubah menjadi kompetisi kebisingan antar kampung atau antar masjid.
Kita merasa bahwa semakin keras suara takbir, semakin besar kemenangan kita. Apakah kamu sedang membesarkan nama Tuhan, atau sedang membesarkan suaramu sendiri untuk menunjukkan dominasi wilayahmu? Takbir telah berubah menjadi instrumen hura-hura yang kehilangan dimensi kontemplatifnya.
Takbiran keliling seringkali menjadi ajang bagi anak muda untuk berekspresi tanpa aturan di bawah payung agama. Knalpot bising, petasan, dan teriakan yang tidak beraturan menjadi bumbu utama malam kemenangan. Pendidikan etika kita seolah-olah tidak punya kuasa di malam ini. Kita merasa mendapatkan lisensi untuk mengganggu ketenangan publik hanya karena kita sedang merayakan agama. Ini adalah bentuk ekstrem dari ego sektarian yang dibungkus dengan kalimat tauhid.
Dalam perspektif akademik, fenomena ini menunjukkan kegagalan dalam memaknai simbol. Takbir adalah pengakuan akan kebesaran Tuhan dan kekecilan manusia. Namun, perilaku kita di malam takbiran justru menunjukkan sebaliknya: kita merasa besar, merasa menang, dan merasa berkuasa atas ruang publik. Kita tidak sedang mengagungkan Tuhan; kita sedang merayakan kemenangan nafsu kita yang sudah tidak sabar untuk kembali bebas setelah sebulan dikekang (atau setidaknya pura-pura dikekang).
Jika kita benar-benar mengerti makna takbir, suara kita seharusnya bergetar karena rasa takut dan harap, bukan karena semangat ingin mengalahkan volume masjid sebelah. Kita sedang mendidik masyarakat bahwa kualitas keberagamaan diukur dari seberapa keras kita bisa berteriak, bukan seberapa dalam kita bisa merenung. Ini adalah degradasi spiritualitas menjadi sekadar kebisingan massal yang tidak meninggalkan bekas apa pun dalam karakter kita.
Cobalah untuk bertakbir di dalam kesunyian kamarmu. Rasakan setiap kata “Allahu Akbar” masuk ke dalam pembuluh darahmu dan meruntuhkan tuhan-tuhan kecil dalam dirimu seperti kesombongan, ketamakan, dan rasa iri. Jika kamu merasa takbirmu hambar tanpa speaker besar dan kerumunan orang, berarti selama ini kamu hanya menyembah kemeriahan, bukan menyembah Sang Pemilik Takbir.






















Discussion about this post