BeritaPers. Opini || Tradisi ziarah kubur menjelang lebaran seringkali dilakukan dengan sangat masif. Kita datang ke makam keluarga, menabur bunga, dan berdoa dengan khusyuk. Namun, ironisnya, setelah keluar dari area pemakaman, kita langsung kembali sibuk dengan urusan baju baru dan menu makanan lebaran. Ziarah yang seharusnya menjadi pengingat akan kematian (memento mori) justru berubah menjadi ritual wisata tahunan yang tidak memberikan efek apa pun pada kesadaran kita tentang kefanaan.
Kita gagal mengambil pelajaran dari tanah makam. Kita melihat batu nisan tanpa menyadari bahwa suatu saat nama kita akan tertulis di sana. Provokasinya: apa gunanya kamu menangis di makam orang tuamu jika di dunia nyata kamu masih sering menzalimi orang lain dan menumpuk harta dengan cara yang haram? Ziarah kita hanyalah bentuk penebusan rasa bersalah sesaat (guilt trip) agar kita bisa merayakan lebaran dengan perasaan yang lebih tenang.
Area pemakaman di akhir Ramadhan berubah menjadi pasar kaget. Pengemis, penjual bunga, dan petugas parkir dadakan berebut rezeki di atas tanah kematian. Kita berinteraksi dengan kemiskinan di depan makam, namun hati kita tetap keras. Kita memberikan uang receh dengan sikap meremehkan, seolah-olah kita lebih mulia dari mereka. Kita tidak belajar tentang kesetaraan di depan maut, kita justru membawa kasta sosial kita hingga ke liang lahat.
Pendidikan agama kita seharusnya menekankan bahwa setiap langkah di kuburan adalah peringatan untuk memperbaiki hidup. Namun, ziarah kita telah didomestikasi menjadi sekadar tradisi “nyekar” agar tidak kualat. Kita memperlakukan leluhur seperti jimat keberuntungan, bukan sebagai pengingat bahwa waktu kita di dunia sangatlah singkat. Kita begitu sibuk menyiapkan rumah untuk lebaran, tapi lupa menyiapkan “rumah” terakhir kita yang gelap dan sempit itu.
Besok, saat kamu berdiri di depan pusara, bayangkan dirimu yang ada di dalam sana. Tanpa baju lebaran, tanpa kendaraan mewah, dan tanpa pujian manusia. Jika bayangan itu tidak membuatmu gemetar dan ingin bertaubat, maka ziarahmu hanyalah olahraga jalan kaki yang tidak berguna. Ramadhan ini adalah kesempatan untuk mati sebelum mati (die before you die), agar kamu bisa lahir kembali sebagai manusia yang benar-benar baru di hari raya nanti.






















Discussion about this post