BeritaPers. Opini || Kita telah sampai di garis akhir. Malam ini, adzan maghrib terakhir menandakan berakhirnya masa “latihan”. Dan apa yang kita lakukan? Seringkali kita merayakannya dengan pesta pora yang tidak terkendali. Konvoi kendaraan, petasan yang memekakkan telinga, dan hura-hura di jalanan menjadi pemandangan utama. Kita merayakan kemenangan atas nafsu dengan cara memuaskan nafsu itu sendiri. Ini adalah penutup yang sangat tragis bagi sebuah bulan yang suci.
Ini adalah puncak dari kemandulan spiritual kita. Kita merasa telah berhasil melewati ujian, sehingga kita merasa berhak untuk berbuat semaunya di malam takbiran. Provokasinya: jika malam ini kamu tidak merasa lebih tenang dan lebih bijaksana, maka 30 harimu kemarin hanyalah sebuah diet massal yang tidak bernilai ibadah. Kamu sedang merayakan kebebasan setannya dirimu sendiri, bukan kemenangan imanmu.
Fenomena malam ke-30 ini menunjukkan bahwa transformasi karakter kita sangatlah rapuh. Kita begitu mudah kembali ke perilaku primitif dan egois begitu aturan formal puasa dicabut. Pendidikan kita gagal membangun motivasi intrinsik. Kita berbuat baik hanya karena takut pada aturan (puasa), bukan karena kita mencintai kebaikan itu sendiri. Inilah mengapa angka kriminalitas dan kecelakaan seringkali justru melonjak di malam-malam seperti ini.
Malam ini adalah waktu yang paling jujur untuk melihat hasil “sekolah” Ramadhanmu. Apakah kamu merasa sedih karena ditinggal oleh bulan penuh berkah, atau kamu justru merasa lega seperti narapidana yang baru saja keluar penjara? Jika hatimu merasa kosong dan hanya dipenuhi ambisi untuk bersenang-senang besok hari, maka kamu baru saja membuang waktu satu bulan secara cuma-cuma. Kamu tidak mendapatkan apa-apa selain rasa haus dan lapar yang sia-sia.
Berhentilah sejenak dari kebisingan malam takbir ini. Duduklah sendirian dan tanyakan pada hatimu: “Siapakah aku besok pagi saat matahari terbit?” Jika kamu tetap menjadi manusia yang sama dengan dirimu di bulan Sya’ban lalu, maka jangan berani-berani mengucapkan “Selamat Idul Fitri”. Tidak ada yang fitrah (suci) dari seseorang yang hanya memindahkan kemaksiatannya dari siang ke malam, atau dari Ramadhan ke bulan-bulan berikutnya.






















Discussion about this post