Padahal, salah satu pelajaran besar dalam puasa adalah menanamkan jiwa pada kesederhanaan. Nabi Muhammad SAW sendiri telah mengingatkan kita untuk tidak terjebak dalam dunia cinta yang berlebihan. Dalam sebuah hadits beliau bersabda, “Menjadi kaya bukan berarti memiliki harta yang banyak. Orang yang benar-benar kaya adalah orang yang merasa cukup.” (HR. Tirmidzi).
Ramadhan seharusnya mencapai puncaknya pada 10 hari terakhir, saat kita diberi kesempatan untuk meraih malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Namun ironisnya, banyak dari kita justru lebih sibuk mempersiapkan lebaran dibandingkan meningkatkan ibadah.
Fenomena ini mengingatkan kita pada hadits Nabi: “Betapa banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga saja.” (HR.Ahmad ). Jangan sampai kita menjadi bagian dari kelompok ini, yang kehilangan esensi utama Ramadhan karena sibuk dengan hal-hal duniawi.
Mari kita kembali ke esensi Ramadhan. Singkatnya, puasa mengajarkan kita untuk menahan diri dari segala bentuk yang berlebihan, baik dalam makanan, minuman, maupun perilaku. Jika kita mampu makan secukupnya saat berbuka, mengapa tidak menerapkan filosofi yang sama dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat menyambut lebaran?
Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu berlebihan-lebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-An’am : 141). Dengan mengamalkan kemudahannya, kita tidak hanya menjaga keharmonisan sosial, tetapi juga memperkuat nilai spiritual kita.






















Discussion about this post