Kontroversi? Tentu saja! AI bukan hanya berpotensi menjadi kawan, tapi juga “lawan” yang mengerikan. Plagiarisme merajalela karena siswa dengan mudahnya meminta AI membuat tugas kuliah 100%. Ketergantungan pada AI melahirkan generasi “copy-paste”, tanpa kemampuan menganalisis dan menciptakan.
Lalu, kita bertanya: AI, kawan atau lawan? Keputusan ada di tangan kita? Omong kosong besar! Ketika guru saja mulai menggantungkan diri pada AI untuk merancang pembelajaran, bagaimana mungkin kita berharap siswa memiliki kesadaran untuk menggunakannya secara bijak? Literasi digital yang digembar-gemborkan hanyalah upaya menenangkan hati nurani yang mulai terusik. Memberikan pemahaman tentang potensi bias dalam informasi AI tidak akan cukup membendung gelombang kemalasan intelektual yang sedang kita ciptakan.
Sadarlah! Kita sedang berjalan menuju jurang kehancuran pendidikan yang sesungguhnya. Kita sedang mencetak generasi “intelektual instan” yang tidak mampu berpikir kritis, tidak memiliki orisinalitas, dan sepenuhnya bergantung pada belas kasihan algoritma. Jika kita terus memuja AI sebagai dewa penyelamat pendidikan, bersiaplah menyaksikan kehancuran nalar dan kreativitas generasi penerus bangsa. Guru bukan lagi pahlawan tanpa tanda jasa, melainkan operator mesin yang kehilangan esensi kemanusiaannya. Inilah era di mana AI berpotensi membuat guru menjadi lebih bodoh dari mesin itu sendiri!
Penulis : Muh Anwar. HM






















Discussion about this post