BeritaPers. Opini – Era Industri 5.0 datang bukan lagi sebagai ramalan, melainkan kenyataan pahit yang memaksa kita menelan pil teknologi bernama Artificial Intelligence (AI). Katanya, AI adalah kawan, penolong setia yang akan mempermudah segalanya, termasuk dunia pendidikan yang katanya “tertinggal”. John McCarthy dan KBBI daring boleh saja mendefinisikannya sebagai upaya meniru otak manusia, tapi kenyataannya? AI berpotensi besar mengebiri otak pendidik dan menumpulkan nalar peserta didik!
Lihatlah bagaimana AI dipuja-puja bak dewa penyelamat. Penelitian Diantama (2024) dan Mambu (2023) dengan lugunya menyebut ChatGPT mampu meningkatkan keterlibatan siswa, motivasi belajar, bahkan membantu guru merancang pembelajaran berdiferensiasi. Omong kosong! Apakah keterlibatan yang dipompa AI adalah keterlibatan yang tulus, atau sekadar kepura-puraan karena dimudahkan segalanya? Apakah motivasi belajar yang dibangkitkan AI adalah motivasi intrinsik, atau hanya ketergantungan pada “doping” instan dari mesin pintar?
Ironisnya, guru-guru kita, yang seharusnya menjadi garda terdepan penjaga nalar bangsa, justru mulai “berkawan” dengan AI melalui pelatihan-pelatihan yang diadakan berbagai forum. Mereka diajari cara “memanfaatkan” AI untuk merancang rencana pembelajaran, rubrik penilaian, mencari materi, bahkan membuat soal! Sungguh tragis! Bukankah esensi seorang guru adalah kemampuan merancang pembelajaran yang kontekstual, menilai pemahaman siswa secara holistik, dan menumbuhkan pemikiran kritis melalui interaksi manusiawi? Mengapa kita justru menggantikannya dengan algoritma dingin dan tanpa empati?
Lihatlah langkah-langkah “mudah” yang diajarkan: guru tinggal mengetikkan perintah super detail, bak menyuruh jongos digital, dan AI akan menyajikan “modul ajar instan”. Lalu, dengan pongahnya, guru diminta “menganalisis” dan “mengedit” data dari AI jika tidak relevan. Sungguh ilusi kendali! Sejatinya, guru sedang dilatih untuk menjadi operator mesin, bukan lagi pendidik yang memiliki visi dan pemahaman mendalam tentang kebutuhan siswanya. Ketajaman berpikir guru yang seharusnya diasah melalui pengalaman dan refleksi, kini digantikan oleh kemampuan mengetik perintah yang “rinci dan jelas” agar AI tidak menghasilkan “data yang diskriminatif maupun bias”. Sebuah lelucon yang menyedihkan!
Katanya, jika digunakan dengan bijak, AI akan mempercepat transformasi pendidikan menuju Indonesia emas. Bullshit! AI bukan kawan seperjuangan, melainkan parasit yang perlahan menggerogoti kemandirian berpikir guru dan siswa. Kita sedang menciptakan generasi yang otaknya dilumpuhkan oleh kemudahan semu, generasi yang tidak mampu berpikir orisinal karena terbiasa disuapi jawaban instan oleh mesin.






















Discussion about this post