Oleh: Syamzan Syukur
BERITAPERS || Kita hidup di zaman yang aneh. Bendera dikibarkan tinggi, lagu kebangsaan dinyanyikan dengan lantang, namun semangat yang dulu menyalakan revolusi kini sering redup di balik layar gawai dan slogan kosong.
Ironisnya, di tengah gegap gempita peringatan hari pahlawan, kita lebih sibuk menata karangan bunga daripada menata arah bangsa. Kita berduka atas abu para pahlawan, tetapi lupa menyalakan kembali api yang mereka wariskan.
Pahlawan sejati tidak meminta kita untuk menghafal nama mereka, melainkan untuk melanjutkan perjuangan mereka. Mereka tidak berperang agar kita hidup nyaman dalam nostalgia, melainkan agar kita berani menantang masa depan dengan keberanian yang sama.
Namun kini, keberanian sering dikerdilkan menjadi sekadar keberanian berkomentar di media sosial. Medan perang sudah berganti—dari parit-parit berlumpur menjadi ruang-ruang digital, dari senjata api menjadi perang gagasan dan etika. Tetapi, apakah kita siap bertempur di medan baru ini?
Mari kita jujur: terlalu banyak dari kita yang lebih memilih menjadi “penonton sejarah” ketimbang pelakunya. Kita mengutip kata-kata Bung Karno dengan bangga, tapi takut mengambil sikap. Kita bicara tentang keadilan sosial, tapi diam saat melihat ketidakadilan di depan mata.
Kita bangga dengan jargon “pemuda harapan bangsa,” tapi justru kehilangan arah di pusaran kenyamanan dan kepentingan pribadi. Jika dulu pahlawan gugur demi kemerdekaan, maka hari ini banyak yang “gugur” karena apatisme.






















Discussion about this post