BeritaPers. Opini – Guru kerap dipandang sebagai profesi yang berjalan rutin dan biasa. Namun, bagi kami, guru adalah sosok yang menyalakan harapan orang yang dengan kesabaran dan ketulusan membuka jalan masa depan anak-anak. Keyakinan inilah yang mengiringi langkah kami saat melaksanakan tugas pengabdian melalui mata kuliah Literasi Kelas Awal. Kegiatan ini menjadi pengalaman pertama kami terjun langsung ke ruang kelas sebagai calon pendidik, sekaligus menjadi langkah kecil menuju tujuan besar: berkontribusi nyata bagi dunia pendidikan.
Pengabdian ini kami laksanakan di kelas I A SD Inpres Bertingkat Somba Opu Gowa. Di kelas awal inilah kami menyadari bahwa proses belajar membaca dan menulis tidak pernah berjalan seragam. Setiap anak memiliki ritme, karakter, dan kebutuhan yang berbeda. Ada anak yang mampu menulis dengan rapi tetapi belum bisa membaca, ada yang mengenal huruf namun sulit menyimak, dan ada pula yang sudah bisa membaca tetapi sulit fokus karena sangat aktif. Realitas ini membuka mata kami bahwa literasi bukan sekadar kemampuan akademik, melainkan proses perkembangan yang kompleks dan sangat personal.

Melalui pendampingan selama kurang lebih dua bulan, kami memfokuskan perhatian pada tiga siswa dengan karakter dan kebutuhan literasi yang berbeda. Pendekatan yang kami lakukan tidak bersifat seragam, melainkan disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak. Pada salah satu siswa yang masih berada pada tahap membaca permulaan, kami memfokuskan latihan fonik dan penggabungan suku kata secara bertahap, sambil menciptakan suasana belajar yang aman agar rasa ragu dan malu perlahan berkurang. Pada siswa lain yang sebenarnya sudah mampu membaca tetapi kurang termotivasi, kami menggunakan media cerita bergambar untuk membangkitkan minat dan kepercayaan diri. Sementara itu, pada siswa yang sangat aktif, metode bermain sambil belajar dan aktivitas kinestetik menjadi kunci agar energi yang dimiliki dapat diarahkan ke proses belajar.
Hasilnya tidak instan, tetapi nyata. Anak-anak yang sebelumnya ragu mulai berani membaca meski masih pelan. Anak yang pemalu mulai mau bersuara dan bercerita. Anak yang mudah terdistraksi mulai mampu fokus ketika pembelajaran dikemas sesuai minatnya. Perubahan ini mengajarkan kami bahwa kemajuan literasi tidak selalu ditandai oleh kecepatan, melainkan oleh keberanian mencoba dan kemauan untuk terus belajar.
Lebih dari peningkatan kemampuan membaca, pendampingan ini membawa dampak emosional yang signifikan. Anak-anak menjadi lebih percaya diri, lebih nyaman belajar, dan lebih terbuka berinteraksi. Di sinilah kami menyadari bahwa peran guru tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi juga mencakup pendampingan emosional dan pembentukan rasa aman bagi peserta didik. Seorang anak yang merasa dihargai akan lebih mudah berkembang, baik secara akademik maupun sosial.






















Discussion about this post