Upah Murah, Hidup Muram
Di negeri ini, bekerja tidak berarti sejahtera. Upah minimum ditetapkan seolah-olah cukup, padahal hanya cukup untuk bertahan hidup. Harga kebutuhan pokok naik, biaya transportasi melonjak, tapi upah tetap stagnan.
Sementara para pejabat dan pengusaha menikmati fasilitas mewah dan untung triliunan, buruh hanya mendapat sisa remah-remah dari meja kekuasaan.
Upah bukan hanya soal angka. Ia adalah soal martabat. Ketika negara membiarkan upah tetap rendah, ia sedang merendahkan martabat para pekerjanya.
Apakah ini balas jasa negara kepada rakyat yang setiap hari menggerakkan ekonomi dari balik pabrik, pelabuhan, dan sawah?
PHK Massal dan Ketakutan Sistematis
Dalam dua bulan pertama tahun ini saja, lebih dari 18.000 buruh di-PHK. Di Jawa Tengah, yang dulu dijuluki “sabuk industri nasional”, pabrik-pabrik tutup dan buruh pulang dengan tangan kosong.
Negara bukannya hadir untuk menyelamatkan, tapi malah mengeluarkan retorika murahan soal “tantangan global”.
Tantangan global tidak bisa dijadikan tameng untuk pembiaran. Ketika negara tahu bahwa perang dagang akan berdampak pada industri dalam negeri, apa yang dilakukan? Mana perlindungan bagi sektor padat karya? Mana jaring pengaman sosial bagi korban PHK? Buruh dijadikan tumbal, tapi tidak pernah dijadikan prioritas.










