BeritaPers. Religi – Hari yang penuh berkah, Jumat 22 Agustus 2025, menjadi momen tak terlupakan bagi ribuan jemaah yang memenuhi Masjid Babul Rahman, di Kompleks Panakukang Delta Mas I, Kota Makassar. Sejak awal, suasana sudah terasa begitu khusyuk. Jemaah yang hadir, mulai dari orang tua, pemuda, hingga anak-anak, berbondong-bondong memadati setiap saf, menunjukkan kerinduan mereka akan siraman rohani.
Muh. Anwar. HM hadir sebagai khatib, dan saat beliau memulai khutbahnya, hening seketika menyelimuti masjid. Suaranya yang tegas, namun penuh kehangatan, langsung membius perhatian setiap hati yang hadir. Beliau mengangkat tema yang sangat menyentuh: “Kasih Sayang Orang Tua,” sebuah topik yang relevan dan abadi sepanjang zaman.
Dengan narasi yang berapi-api namun tetap menenangkan, Muh. Anwar. HM memulai khutbahnya dengan memaparkan betapa besar dan mulianya peran orang tua, khususnya seorang ibu. Beliau menggambarkan pengorbanan ibu mulai dari mengandung, melahirkan, hingga membesarkan anak dengan penuh cinta. “Pernahkah kita hitung berapa tetes air mata dan keringat yang ibu kita curahkan untuk kita?” tanyanya retoris, membuat sebagian jemaah tak kuasa menahan haru.
Muh. Anwar. HM tidak hanya sekadar berceramah, tetapi juga memberikan petuah dan arahan yang jelas. Beliau mengajak jemaah untuk merenung dan mengoreksi diri, apakah selama ini kita sudah cukup berbakti? Beliau mengingatkan bahwa cinta seorang ibu tidak pernah meminta balasan, namun kita sebagai anak wajib membalasnya dengan berbakti, menjaga lisan, dan mendoakannya. Beliau mengutip ayat-ayat suci Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi Muhammad SAW yang secara tegas memerintahkan umatnya untuk berbuat baik kepada orang tua.
Suasana semakin khidmat saat beliau menyinggung tentang pentingnya mendoakan orang tua yang telah tiada. Jemaah terlihat khusyuk, menundukkan kepala, meresapi setiap kata yang keluar dari lisan sang khatib. Khutbah ini bukan hanya sekadar pesan, tetapi sebuah cambuk spiritual yang membangunkan kesadaran, bahwa surga ada di telapak kaki ibu.
Pada akhirnya, khutbah ini ditutup dengan doa yang menyentuh, memohon ampunan bagi kita dan kedua orang tua. Puluhan jemaah yang terlihat mengusap air mata keluar dari masjid dengan wajah yang lebih tenang, hati yang tercerahkan, dan tekad yang baru untuk lebih mencintai dan menghargai orang tua mereka.
Semoga khutbah yang luar biasa ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk senantiasa memuliakan kedua orang tua. Bagikan pesan ini agar lebih banyak orang terinspirasi!






















Discussion about this post