Semua ini menjadi sinyal bahwa pendidikan kita mengalami ketimpangan fundamental: terlalu bersemangat membangun secara fisik, tapi abai terhadap pembangunan mental, struktural, dan filosofis.
Infrastruktur pendidikan telah dibangun megah, tetapi tidak didampingi oleh kebijakan yang matang dan berkesinambungan.
Pendidikan sejatinya bukan hanya soal membangun gedung dan menyusun kurikulum, melainkan soal membentuk manusia. Dan manusia tidak dibentuk oleh tembok sekolah, melainkan oleh visi yang ditanamkan, guru yang menginspirasi, sistem yang mendukung, serta masyarakat yang peduli.
Oleh karena itu, tajuk rencana ini menggarisbawahi perlunya reposisi cara pandang negara terhadap pendidikan. Pertama, pemerintah harus menempatkan guru sebagai subjek utama perubahan. Tingkatkan kapasitas mereka secara berkelanjutan dan berikan penghargaan yang layak, bukan hanya beban administrasi dan tuntutan implementasi kebijakan yang selalu berubah.
Kedua, perkuat partisipasi publik dalam proses perumusan kebijakan pendidikan. Pendidikan adalah ruang hidup publik, bukan hanya ranah birokrasi teknokratik. Libatkan komunitas pendidikan dari tingkat sekolah hingga nasional dalam proses-proses strategis.










