Ketiga, pendidikan tinggi harus dikembalikan pada posisinya sebagai garda terdepan pencipta inovasi dan transformasi sosial. Pengurangan anggaran harus dikaji ulang agar tidak memutus mata rantai pembangunan pengetahuan.
Keempat, reformasi kurikulum harus menyentuh esensi: membentuk karakter, kecakapan hidup, dan keberdayaan siswa, bukan hanya kompetensi teknis yang lepas dari konteks sosial mereka.
Kini saatnya kita tidak hanya mengevaluasi berapa banyak bangunan telah dibangun, tetapi sejauh mana pendidikan telah membangun manusia Indonesia.
Karena hanya dengan manusia yang utuh—berilmu, berkarakter, dan berdaya—Indonesia bisa melangkah maju menghadapi masa depan yang kian kompleks.
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2025. Saatnya membangun arah, bukan sekadar bangunan.










