BeritaPers. Opini – Sebuah pertanyaan menggelayuti benak: benarkah Artificial Intelligence (AI), sang primadona teknologi, hanya akan menyeret mahasiswa ke dalam jurang kemalasan intelektual dan mengubur perpustakaan dalam kesunyian? Atau justru sebaliknya, AI mampu menjadi angin segar yang menghidupkan kembali denyut nadi ilmu pengetahuan di tengah generasi digital yang serba instan?
Jangan tertipu dengan janji manis kemudahan yang ditawarkan AI. Memang benar, hanya dengan beberapa sentuhan jari, lautan informasi tersaji di hadapan kita. ChatGPT, Gemini, MetaAI, Google Scholar – sederet nama yang menjelma menjadi dewa penyelamat tugas kuliah. Mencari referensi, merangkai karya tulis, bahkan menemukan solusi instan untuk soal-soal rumit, semuanya terasa begitu ajaib dan memanjakan. Namun, di balik kemudahan yang membius ini, tersembunyi bahaya laten yang mengancam fondasi intelektual mahasiswa.
Bayangkan! Menyusuri rak-rak buku yang menjulang tinggi, merasakan aroma kertas usang yang menyimpan jejak pemikiran para cendekiawan, menemukan harta karun ilmu pengetahuan secara tak terduga – pengalaman berharga ini perlahan tergerus oleh algoritma AI yang serba cepat dan terukur. Proses manual yang dulunya dianggap melelahkan, justru menyimpan hikmah mendalam: melatih kesabaran, ketelitian, dan kemampuan untuk menemukan keterkaitan antar berbagai sumber informasi. Semua itu hilang ditelan efisiensi semu yang ditawarkan AI.
Lebih jauh lagi, kenyamanan yang ditawarkan AI menciptakan generasi “kutu loncat” informasi. Mahasiswa terbiasa mendapatkan jawaban instan tanpa perlu bersusah payah mencari, menganalisis, dan menyintesis informasi secara mandiri. Mereka terlena dalam zona nyaman digital, mengakses ilmu pengetahuan dari balik layar tanpa perlu berinteraksi dengan lingkungan belajar yang sesungguhnya. Perpustakaan fisik, yang seharusnya menjadi ruang kolaborasi, diskusi, dan pertukaran ide, kini semakin sepi ditinggalkan. Fasilitas yang kurang menarik dan jam operasional yang terbatas semakin memperparah kondisi ini, mendorong mahasiswa untuk sepenuhnya bergantung pada “doping” AI.
Lantas, apa konsekuensinya jika ketergantungan ini terus berlanjut? Wakil Menteri Dikti Saintek, Prof. Stella Christie, dengan lantang telah mengingatkan: “Penggunaan AI tanpa etika bisa menjadi konsekuensi yang kurang baik bagi pelajar.” Ya, tanpa etika dan tanpa kesadaran akan batasan, AI berpotensi merusak kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan orisinalitas mahasiswa. Mereka akan tumbuh menjadi generasi “plagiaritor ulung”, pandai menyalin dan menempel tanpa memahami esensi dari ilmu yang mereka “dapatkan”.
Apakah kita rela melihat perpustakaan fisik, simbol peradaban dan gudang ilmu pengetahuan, menjadi monumen bisu di era digital ini? Apakah kita ikhlas membiarkan otak mahasiswa kita dijajah oleh algoritma AI yang serba tahu namun minim kebijaksanaan?
Ini bukan lagi sekadar pertanyaan tentang efisiensi atau kenyamanan. Ini adalah pertaruhan masa depan intelektual bangsa! Kita harus segera sadar bahwa AI hanyalah alat, bukan pengganti akal sehat dan semangat belajar yang membara. Perpustakaan fisik dan digital harus bersinergi, bukan saling meniadakan. Mahasiswa perlu dididik untuk menggunakan AI secara bijak dan bertanggung jawab, bukan menjadikannya sebagai candu yang mematikan nalar.
Mari kita bangun kembali kesadaran akan pentingnya proses belajar yang sesungguhnya. Mari kita hidupkan kembali denyut nadi perpustakaan sebagai jantung ilmu pengetahuan. Jangan biarkan kemudahan semu AI merenggut esensi pendidikan dan mencetak generasi “intelektual instan” yang rapuh dan tanpa jati diri. Masa depan bangsa ini ada di tangan para mahasiswa yang cerdas, kritis, dan memiliki integritas – bukan para pengguna setia AI yang malas berpikir!.
Penulis : Muh Anwar. HM






















Discussion about this post