BeritaPers. Opini – Ketika hilal Ramadan muncul, dunia digital pun turut merayakannya. Ucapan selamat berpuasa berseliweran di media sosial, kajian daring marak diadakan, dan aplikasi pengingat waktu salat menjadi andalan. Namun, di balik kemudahan dan kemeriahan ini, tersimpan sebuah pertanyaan mendalam: apakah Ramadan kita kali ini lebih bermakna, ataukah hanya sekadar rutinitas digital yang dihiasi nuansa religius?
Sebagai seorang yang hidup di era digital, saya menyaksikan bagaimana teknologi telah mengubah cara kita berinteraksi, belajar, dan bahkan beribadah. Akses tak terbatas ke informasi agama, kemudahan berbagi kebaikan, dan terhubung dengan komunitas virtual, semua ini adalah berkah yang tak ternilai.
Namun, di sisi lain, saya juga melihat bagaimana layar-layar bercahaya itu mampu menyedot perhatian kita, mengalihkan fokus dari esensi Ramadan yang sebenarnya. “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).
Ayat ini bukan sekadar pengingat kewajiban, tetapi juga panggilan untuk introspeksi. Apakah puasa kita tahun ini mampu meningkatkan ketakwaan kita, ataukah hanya sekadar menahan lapar dan dahaga sambil terus menggenggam ponsel?
Saya mengajak kita semua untuk merenungkan kembali tujuan Ramadan. Bukan hanya sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga dari segala bentuk “makanan” digital yang berpotensi meracuni jiwa kita. Mari kita lakukan “detoksifikasi digital”, bukan sebagai larangan, tetapi sebagai upaya untuk memurnikan hati dan pikiran.






















Discussion about this post