Ramadhan dirindukan bukan sekadar karena ia bagian dari ajaran agama, tetapi karena ia membawa begitu banyak nilai yang membuat kita ingin selalu memilikinya. Kerinduan selalu lahir dari sesuatu yang memiliki manfaat, keindahan, kesenangan, atau kepuasan. Seorang kekasih dirindukan karena ia membawa kebahagiaan.
Mobil yang lama di bengkel dirindukan oleh pemiliknya, bukan hanya karena kegunaannya, tetapi juga karena nilai yang ia berikan dalam kehidupan sehari-hari. Anda merindukan kekasih yang jauh mungkin karena salah satu dari nilai-nilai itu atau keseluruhannya. Mobil yang sudah sebulan diisolasi di bengkel akibat kerusakan yang sangat serius pasti dirindukan oleh pemiliknya.
Bisa jadi karena manfaat dan kegunaan mobilnya, atau karena dia tidak percaya diri (pede) dan malu jika tidak mengendarai mobil. Kalau mobil itu bisa ngomong, mungkin dia juga bakal curhat, “Lama banget di sini, bos! Kapan daku dijemput?”
Begitu juga dengan Ramadhan. Kita merindukannya bukan hanya karena ia kewajiban dalam rukun Islam, tetapi juga karena keberkahan yang menyertainya. Kita merindukan suasana puasa bukan hanya karena pahala yang dijanjikan, tetapi juga karena hikmah yang menyertainya.
Dalam bahasa masyarakat kita, ada istilah barakka puasa—keberkahan yang datang bersama ibadah ini. Berkat Ramadhan, kita berharap dosa-dosa kita diampuni, hati kita dibersihkan, dan kehidupan kita diberkahi. Rasulullah pun sudah mengingatkan dalam doanya: celakalah mereka yang mendapati Ramadhan, namun dosa-dosanya tidak diampuni sampai Ramadhan berlalu meninggalkannya.
Umat Islam di tanah air pun merindukan suasana puasa yang unik dan tak tergantikan oleh bulan lainnya. Hanya di Ramadhan kita merasakan kebersamaan dalam menahan diri di siang hari, dalam beribadah berjamaah di masjid, dalam berbuka puasa bersama, dalam tarawih yang khusyuk, dan dalam i’tikaf yang mempererat hubungan kita dengan Allah.
Kebersamaan ini adalah obat bagi hati yang merindu. Karena Ramadhan bukan hanya tentang puasa, tetapi juga tentang persaudaraan, kebersamaan, dan cinta yang semakin mendekatkan kita kepada Allah.
Maka, saat Ramadhan datang, sambutlah ia dengan penuh rindu. Jangan biarkan ia berlalu tanpa meninggalkan jejak kebaikan dalam hidup kita. Karena seburuk-buruknya perpisahan adalah ketika kita melewatkan sesuatu yang begitu berharga tanpa pernah benar-benar menghargainya.( @editor:KML)










