Oleh : Afifuddin
BERITAPERS || Ada dua alasan yang membangkitkan kerinduan: pertama, alasan mengapa kita merindukan dan kedua, apa dan siapa yang kita rindukan. Kerinduan lahir karena sesuatu yang kita dambakan tidak selalu hadir setiap saat. Ia datang dan pergi, menghadirkan pertemuan dan perpisahan.
Kita tidak akan merindu sesuatu yang selalu ada di hadapan kita. Tetangga yang kita jumpai setiap hari mungkin tidak menimbulkan rindu, tetapi keluarga di kampung halaman yang jarang kita temui selalu menghadirkan kerinduan yang mendalam. Seperti pasangan yang menjalani long distance relationship (LDR), setiap chat dan video call terasa seperti oase di padang pasir, tapi tetap saja, sinyal putus-putus tak bisa menggantikan kehangatan pelukan.
Ada yang bilang, cinta jarak jauh itu seperti puasa—menahan rindu di siang hari, menabung doa di malam hari, dan berharap bisa berbuka bersama suatu saat nanti.
Begitu pula dengan Ramadhan. Ia hanya datang sekali dalam setahun, memberi kita kesempatan menikmati keberkahannya, lalu meninggalkan kita dengan harapan untuk bertemu kembali. Ramadhan hadir membawa kebahagiaan, tetapi sebelum kita puas menikmatinya, ia sudah harus pergi.
Sungguh beruntung mereka yang diberi umur panjang dan kesehatan untuk kembali bertemu dengan Ramadhan. Sebaliknya, alangkah ruginya mereka yang diberikan kesempatan berjumpa dengannya, namun tidak sedikit pun merasakan rindu.
Ibarat seseorang yang mendapat tiket mudik gratis, namun sesampai di kampung justru berkata bahwa ia tak merindukan keluarganya. Betapa sia-sianya kesempatan yang diberikan.










