Saya teringat dengan pesan seorang ulama, “Ibadah itu seperti berlian, semakin tersembunyi, semakin bernilai.” Apakah ibadah yang diumbar di media sosial masih memiliki nilai yang sama? Ini adalah pertanyaan yang terus menghantui pikiran saya.
Selain itu, saya juga melihat adanya pergeseran makna ibadah di era digital ini. Ibadah tidak lagi hanya dimaknai sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai konten yang menarik dan menghibur. Hal ini dapat menimbulkan distorsi dalam pemahaman agama, di mana esensi ibadah yang sebenarnya menjadi kabur.
Oleh karena itu, kita perlu lebih bijak dalam menggunakan media sosial, terutama dalam konteks ibadah. Jangan sampai kita terjebak dalam budaya “pamer ibadah” yang hanya mengejar popularitas dan keuntungan materiil. Mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai momen untuk introspeksi diri, memperbaiki niat, dan meningkatkan kualitas ibadah kita.
Saya percaya, setiap orang memiliki cara masing-masing dalam beribadah. Ada yang lebih khusyuk beribadah di kesunyian malam, ada pula yang merasa lebih semangat beribadah bersama orang lain. Namun, yang terpenting adalah niat yang ikhlas dan hati yang tulus.
Di era digital ini, kita perlu lebih cerdas dalam memilah dan memilih konten-konten Islami yang berkualitas. Jangan mudah terpengaruh oleh konten-konten yang hanya mengejar sensasi dan popularitas. Mari kita jadikan media sosial sebagai sarana untuk menyebarkan kebaikan dan memperkuat ukhuwah Islamiyah.






















Discussion about this post