BeritaPers. Opini – Bulan Ramadhan selalu menghadirkan nuansa spiritual yang mendalam, sebuah momen refleksi diri yang tak ternilai harganya. Di bulan suci ini, kita tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga berupaya untuk meningkatkan kualitas ibadah dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Suasana masjid yang ramai, lantunan ayat suci Al-Quran, dan ceramah-ceramah agama menjadi bagian tak terpisahkan dari Ramadhan.
Namun, perkembangan teknologi dan media sosial telah membawa perubahan signifikan dalam cara kita beribadah. Ramadhan di era digital ini diwarnai oleh fenomena “ibadah daring”, di mana aktivitas keagamaan tidak hanya dilakukan di masjid atau musala, tetapi juga diunggah dan dibagikan di platform media sosial.
Fenomena ini memunculkan berbagai pertanyaan dan perdebatan. Apakah ibadah yang dipertontonkan di media sosial masih murni karena Allah SWT, atau sudah tercampur dengan riya dan keinginan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain? Apakah niat beribadah tidak menjadi luntur karena tergiur popularitas dan keuntungan materiil?
Saya pribadi melihat fenomena ini dari dua sisi. Di satu sisi, media sosial dapat menjadi sarana dakwah yang efektif, menjangkau audiens yang lebih luas, terutama generasi muda yang akrab dengan teknologi. Konten-konten Islami yang kreatif dan menarik dapat menginspirasi dan memotivasi orang untuk berbuat kebaikan.
Namun, di sisi lain, saya juga merasa khawatir dengan adanya komersialisasi ibadah. Ibadah yang seharusnya merupakan urusan pribadi antara manusia dengan Tuhan, kini menjadi komoditas yang diperjualbelikan di dunia maya. Vlog-vlog Ramadhan bermunculan, menampilkan aktivitas ibadah para selebgram dan influencer. Semakin banyak penonton, semakin banyak pula pundi-pundi uang yang mereka dapatkan.






















Discussion about this post