Pasca Ramadhan, kita perlu memelopori “gerakan kesalehan publik”. Bayangkan bagaimana dunia akan lebih damai jika semua orang menampilkan perilaku ihsan dalam setiap interaksi sosial—baik dengan sesama Muslim maupun saudara kita yang berbeda keyakinan. Bukankah kita ingin menjadi pribadi yang menebar rahmat bagi semesta?
Siapa bilang kebaikan hanya terjadi di dunia nyata? Media sosial juga bisa menjadi ladang dakwah, silaturahim, dan berbagi pesan-pesan yang penuh kedamaian. Alih-alih menyebarkan hoaks, kebencian, atau fitnah, mari jadikan media sosial sebagai ruang untuk menghidupkan semangat Ramadhan. Karena ini, kita bisa memilih: apakah ingin menjadi “influencer kebaikan” atau “pelopor online ”?
Idul Fitri juga membawa tradisi mudik yang penuh dengan kebahagiaan. Tapi jangan sampai mudik hanya soal selfie bersama keluarga. Jadikan momen ini sebagai modal sosial untuk saling memaafkan, mempererat tali persaudaraan, dan menebarkan semangat kekeluargaan. Dengan begitu, kita tidak hanya membawa kebahagiaan untuk diri sendiri, tapi juga bagi bangsa kita.
Akhirnya, saya berdoa kepada Allah SWT agar apa yang telah kami lakukan selama Ramadhan tidak berakhir sia-sia. Semoga keimanan dan ketaqwaan kita semakin baik dan sempurna. Ramadhan adalah peluang emas, tapi pasca Ramadhan adalah ujian sebenarnya. Mari kita berkomitmen untuk tetap menjadi insan bertaqwa sepanjang hayat. Amiin ya Rabbal alamiin.
(AWR)






















Discussion about this post