Jadikanlah Ramadhan sebagai mujahadah batin, perjuangan melawan hawa nafsu yang seringkali tak terkendali, yang menjerumuskan kita ke dalam jurang kehinaan. Tahanlah lidah dari kata-kata yang menyakiti, karena puasa yang hakiki adalah puasa hati, puasa dari segala bentuk keburukan yang merusak jiwa, dan menjauhkan kita dari-Nya.
Berbagilah, karena di setiap suap nasi yang kita berikan, tersembunyi curahan cinta kepada sesama, bentuk kepedulian kita terhadap sesama manusia. Ramadhan adalah tentang memberi, bukan sekadar menggenggam harta duniawi, melainkan tentang berbagi kebahagiaan dan keberkahan dengan orang lain.
Lailatul Qadar, malam seribu bulan, bukan sekadar fenomena langit, melainkan malam tajalli, malam di mana hijab dunia tersingkap, dan hati diterangi cahaya Ilahi yang tak terhingga, malam di mana kita bisa merasakan kehadiran-Nya dengan lebih dekat.
Seperti yang dikatakan oleh Imam Al-Junayd, Lailatul Qadar adalah tentang hati yang siap menerima cahaya-Nya, hati yang bersih dari segala bentuk kotoran duniawi. Maka, bersihkan hati, lakukan i’tikaf, dan kontemplasi, agar kita bisa meraih malam kemuliaan itu, malam di mana kita bisa merasakan keagungan-Nya.
Lailatul Qadar adalah rahasia Tuhan, hadiah bagi mereka yang bersungguh-sungguh mencari-Nya, bagi mereka yang ingin mendekatkan diri kepada-Nya. Ia adalah malam di mana langit dan bumi, fana dan baqa, bertemu dalam harmoni yang sempurna, malam di mana kita bisa merasakan keindahan dan keagungan-Nya.
(AWR)






















Discussion about this post