BeritaPers. Opini – Pembelajaran PAI (Pendidikan Agama Islam) di sekolah sering identik dengan pola “guru ceramah, peserta didik mendengar”. Metode ceramah memang memiliki kelebihan jika dirancang dengan baik, apalagi untuk materi yang sifatnya informatif dan definisi. Tapi kalau targetnya dan capaiannya lebih komprehensif, misalnya peserta didik dapat memiliki pemahaman terhadap makna, punya sikap, dan kebiasaan, maka metode ceramah dipandang tidak cocok. Peserta didik akhirnya “tahu”, tapi belum tentu “memiliki pengetahuan secara mendalam terkait materi yang dipelajari” apalagi bila dikaitkan dengan kehidupan nyata peserta didik.
Melalui kenyataan ini, metode hiwar bisa jadi rekomendasi yang menarik. Hiwar sama dengan dialog. Tetapi bukan debat kusir, bukan juga ngobrol biasa. Dialog dimaksud berupa percakapan yang terarah: ada pertanyaan, ada pendapat, ada tanggapan, lalu ditutup dengan kesimpulan yang jelas.
Metode dialog ini sebenarnya sudah lasim dalam tradisi Islam. Al-Qur’an banyak menginformasikan contoh-contoh dialog, seperti: Nabi Ibrahim berdialog dengan kaumnya, Nabi Musa berdialog dengan Fir’aun, dan lain-lain. Melalui cara dialog ini, maka pesan, nilai dapat disampaikan lewat tanya-jawab dan percakapan, sehingga menjadi “nyata” sejak awal, bukan hal baru.
Supaya metode hiwar ini tidak cuma jadi diskusi bebas, perlu “rancang bangun” yang jelas, melalui tahapan:
Tahap pertama: perencanaan. Guru memilih tema PAI yang memang cocok untuk dibahas lewat dialog, misalnya soal jujur, adab bermedia sosial, tanggung jawab, toleransi, atau pergaulan. Tema-tema seperti ini dekat dengan realita peserta didik. Lalu guru siapkan pertanyaan pemantik yang terbuka, misalnya: “Menurut kalian, bohong kecil itu tetap bohong tidak?” atau “Kenapa ada orang rajin ibadah tapi masih suka menyakiti orang lain?” Pertanyaan model begini biasanya memancing peserta didik berpikir dan berani bicara.
Tahap kedua: pelaksanaan. Di sini peran guru berubah: bukan pusat semua jawaban, tapi jadi pengarah. Guru membuka ruang peserta didik untuk menyampaikan pendapat, pengalaman, atau contoh yang mereka lihat di lingkungan sosialnya. Setelah itu, guru membantu merapikan arah diskusi: mana yang sesuai, mana yang perlu diluruskan, dan bagaimana mengaitkannya dengan nilai Islam lewat dalil yang pas. Jadi dalil bukan ditempel di awal lalu selesai, tetapi jadi “kompas atau pedoman” untuk menuntun dialog supaya tetap terarah. Yang penting, suasana kelas dijaga tetap aman: peserta didik boleh beda pendapat, tapi caranya tetap menjaga sopan santun dalam berdialog, pakai alasan, dan tidak menjatuhkan teman.

Tahap ketiga: penutup dan evaluasi. Metode hiwar tidak cukup dinilai lewat asesmen melalui instrument tes pilihan ganda. Hal yang dinilai bukan cuma hasil akhir, tapi juga proses: apakah peserta didik dapat menyampaikan pendapat dengan baik, apakah dapat mendengar pendapat teman, apakah bisa menarik pelajaran dari diskusi. Bagian refleksi juga penting. Misalnya di akhir, guru minta peserta didik menulis tugas reflektif.
Metode hiwar ini memiliki dampak akademik jika diikuti tahapan di atas, seperti kelas jadi lebih hidup, peserta didik lebih aktif dan terlibat dalam peristiwa dialog, melatih proses berpikir secara komprehensif karena dibahas lewat contoh dan pengalaman hidup mereka, serta peserta didik belajar tentang adab berdialog: seperti bicara baik, mendengar, dan menghargai perbedaan.
Tentu metode hiwar ini juga memiliki keterbatasan, seperti: butuh waktu, butuh keterampilan, dan guru harus siap mengelola kelas. Kenyataannya, kadang juga ada peserta didik yang terlalu dominan atau justru pasif. Kadang diskusi melebar kalau tidak diarahkan. Oleh Karena itu, guru perlu punya panduan yang jelas terkait: tujuan pembelajaran, pertanyaan pemantik yang terencana, dan batas-batas diskusi yang terjaga.
Pada akhirnya, materi PAI idealnya bukan sekadar pelajaran untuk dihafal, tapi ruang belajar untuk membentuk cara pandang dan sikap hidup peserta didik. Metode hiwar bisa dapat direkomendasi untuk membantu ke arah itu: membuat peserta didik tidak hanya “tahu”, tetapi juga paham, merasakan, lalu secara perlahan membiasakan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata.
Penulis : Dr. Usman, S.Ag., M.Pd
Dosen Tetap FTK Prodi PAI UINAM
Kaprodi PPG FTK






















Discussion about this post