BERITAPERS || PINRANG – Selasa, 30 Juni 2026. Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis solar yang terjadi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, semakin memprihatinkan. Krisis pasokan yang telah berlangsung selama kurang lebih dua pekan terakhir itu tidak hanya menyulitkan masyarakat dalam memperoleh BBM, tetapi juga mulai melumpuhkan aktivitas ekonomi masyarakat pesisir yang sangat bergantung pada sektor perikanan tangkap.
Dampak paling nyata dirasakan para nelayan tradisional di wilayah pesisir Kecamatan Suppa, Lanrisang, Mattiro Sompe, hingga Duampanua. Ratusan perahu nelayan kini tampak berjejer di sepanjang bibir pantai karena tidak dapat beroperasi akibat sulit memperoleh solar sebagai bahan bakar utama mesin kapal.
Situasi tersebut menyebabkan sebagian besar nelayan memilih tidak melaut daripada mengambil risiko kehabisan bahan bakar di tengah laut. Selain membahayakan keselamatan, kondisi itu juga berpotensi menimbulkan kerugian yang lebih besar apabila kapal mengalami kerusakan atau terombang-ambing tanpa pasokan BBM yang memadai.
Salah seorang nelayan, Arman, mengaku kelangkaan solar yang terjadi saat ini merupakan salah satu yang paling berat dalam beberapa bulan terakhir. Menurutnya, hampir setiap hari nelayan harus mengantre selama berjam-jam di SPBU dengan membawa surat rekomendasi atau dokumen pendukung agar dapat membeli BBM bersubsidi.
Namun, meskipun seluruh persyaratan telah dipenuhi, tidak sedikit nelayan yang tetap pulang dengan tangan kosong karena stok solar telah habis sebelum giliran mereka tiba.
“Kalau pasokan tidak cukup sampai 10 liter, kami tidak berani keluar melaut karena jaraknya jauh. Biasanya 10 liter itu hanya cukup untuk satu hari perjalanan mencari ikan. Kalau dipaksakan berangkat dengan solar sedikit, risikonya sangat besar,” ujar Arman.
Ia juga menilai distribusi solar di lapangan belum berpihak kepada nelayan. Menurutnya, kendaraan roda empat maupun kendaraan angkutan kerap lebih dahulu memperoleh pasokan, sementara nelayan yang menggantungkan hidup dari hasil tangkapan ikan justru sering tidak kebagian.
“Kami datang sejak pagi, tetapi ketika giliran nelayan, solar sudah habis. Padahal kebutuhan kami untuk bekerja, bukan untuk keperluan lain,” tambahnya.
Akibat terbatasnya pasokan, nelayan yang berhasil memperoleh solar pun hanya mendapatkan jatah di bawah 10 liter per hari. Jumlah tersebut dinilai jauh dari kebutuhan operasional kapal yang umumnya membutuhkan belasan hingga puluhan liter untuk sekali melaut, tergantung jarak lokasi penangkapan ikan dan kapasitas mesin kapal.
Kondisi tersebut memaksa banyak nelayan menghentikan aktivitas melaut selama beberapa hari bahkan lebih dari sepekan. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh para nelayan, tetapi juga keluarga mereka yang kehilangan sumber pendapatan harian.
Lesunya aktivitas penangkapan ikan juga mulai dirasakan oleh para pedagang ikan di sejumlah pasar tradisional. Berkurangnya hasil tangkapan menyebabkan pasokan ikan segar menurun, sehingga dikhawatirkan memengaruhi stabilitas harga di pasaran apabila kondisi ini terus berlanjut.
Di sejumlah kawasan pesisir Kabupaten Pinrang, pemandangan perahu-perahu yang hanya bersandar di pantai menjadi gambaran nyata terhentinya roda perekonomian masyarakat nelayan. Sebagian nelayan memanfaatkan waktu dengan membersihkan kapal, memperbaiki jaring, maupun melakukan perawatan mesin sambil menunggu kepastian ketersediaan solar.
Para nelayan berharap pemerintah daerah, instansi terkait, serta pihak penyedia BBM segera mengambil langkah cepat untuk mengatasi kelangkaan tersebut. Mereka meminta adanya kepastian distribusi solar bersubsidi bagi nelayan, termasuk pemberian kuota khusus agar kebutuhan operasional kapal dapat terpenuhi dan aktivitas melaut kembali berjalan normal.
Selain itu, mereka juga berharap dilakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap distribusi BBM bersubsidi agar penyalurannya benar-benar tepat sasaran dan tidak menimbulkan antrean panjang maupun kelangkaan yang berkepanjangan.
Para nelayan menilai sektor perikanan merupakan salah satu penopang ekonomi masyarakat pesisir Kabupaten Pinrang. Karena itu, ketersediaan BBM bersubsidi menjadi kebutuhan yang sangat vital. Apabila persoalan ini tidak segera ditangani, dikhawatirkan dampaknya akan semakin luas, tidak hanya terhadap pendapatan nelayan, tetapi juga terhadap rantai pasok hasil perikanan, stabilitas harga ikan, hingga perekonomian masyarakat pesisir secara keseluruhan.
Masyarakat kini menanti langkah konkret dari pemerintah dan pihak terkait untuk memastikan distribusi solar kembali normal sehingga aktivitas melaut dapat segera pulih dan roda ekonomi nelayan kembali bergerak. (MLP)










